Rabu, 25 Agustus 2010

Per Kepala Keluarga Atau Per Person

Pertanyaan:
Salah satu asnaf penerima zakat adalah fakir/miskin.
Apakah yang dimaksud miskin itu satu orang miskin? Atau satu keluarga miskin?

Jawaban:
يعطى الفقير أو المسكين ما يكفيه مؤنة عام أو تكميل مؤنة العام
Terjemah:
Diberikan zakat kepada fakir/miskin untuk memenuhi kebutuhannya selama satu tahun atau menyempurnakan kebutuhannya selama satu tahun.
(Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’ [Lembaga Riset Ilmiah dan Fatwa – Saudi Arabia. Juz: 10, halaman: 143].)

وأما مقدار ما يعطى الشخص، فعند المالكية والحنابلة يعطى الفقير والمسكين كفايتهما أو تمام الكفاية له ولمن يعول لمدة سنة.
وعند الشافعية يعطيان ما يخرجهما من الحاجة إلى الغنى، وهو ما تحصل به الكفاية على الدوام.
وعند أبي حنيفة وأصحابه: لآ تجوز له الزيادة على مائتي درهم، وإذا كان له من يعول من زوجة وأولاد، جاز أن يأخذ لكل واحد منهم مقدار هذا النصاب.
انظر حاشية الدسوقي 1/464، المجموع 6/193، الإنصاف 3/238.
Terjemah:
Adapun kadar zakat yang diberikan kepada fakir/miskin.
Menurut Mazhab Maliki dan Hanbali: diberikan zakat kepada fakir/miskin untuk mencukupi kebutuhan mereka atau menyempurnakan kebutuhan mereka dan keluarga yang mereka tanggung selama satu tahun.
Menurut Mazhab Syafi’i: diberikan zakat kepada fakir/miskin sehingga dapat mengeluarkan mereka dari kebutuhan menjadi mampu, yaitu mencukupi kebutuhan mereka untuk selamanya.
Menurut Imam Hanafi dan para ulama Mazhab Hanafi: tidak boleh lebih dari dua ratus Dirham. Jika orang fakir/miskin itu mempunyai istri dan anak-anak, setiap mereka boleh mengambil kadar ini (dibawah dua ratus Dirham).
Lihat kitab Hasyiah ad-Dasuqi (1/464), al-Majmu’ (6/193) dan al-Inshaf (3/238).
(Sumber: Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyyah, juz: 93, halaman: 181).

مقدار ما يعطى الفقير من الزكاة: من مقاصد الزكاة كفاية الفقير وسد حاجته، فيعطى من الصدقة، القدر الذي يخرجه من الفقر إلى الغني، ومن الحاجة إلى الكفاية، على الدوام، وذلك يختلف باختلاف الاحوال والاشخاص.
Terjemah:
Kadar zakat yang diberikan kepada fakir: diantara tujuan zakat adalah memenuhi kebutuhan fakir, maka diberikanlah zakat kepadanya sebanyak kadar yang dapat mengeluarkannya dari kefakiran kepada mampu, dari butuh kepada cukup, untuk selamanya. Dan dalam hal itu terdapat perbedaan diantara beberapa kondisi dan orang-orang (fakir/miskin) tersebut.
(Sumber: Kitab Fiqh as-Sunnah, karya: Syekh Sayyid Sabiq, Penerbit: Dar al-Kitab al-‘Arabi, Beirut, Lebanon. Juz: , halaman: 1, halaman: 384).

فإن معنى " القوام من العيش " والسداد من العيش " أن يعطي الفقير ما يسد به حاجته ويخرجه من الحاجة إلى الغنى
الأموال لأبي عبيد ص746 - 750 ، المحلي لابن حزم 6 / 452 ، المجموع للنووي 6 / 203 .
Makna kalimat: القوام من العيش dan kalimat: والسداد من العيش adalah: memberikan zakat kepada fakir/miskin untuk memenuhi kebutuhannya dan dapat mengeluarkannya dari kebutuhan kepada taraf mampu.
Lihat kitab al-Amwal karya Abu ‘Ubaid, halaman: 746 – 750, kitab al-Mahalli karya Imam Ibnu Hazm, juz: 6, halaman: 452 dan kitab al-Majmu’ karya Imam Nawawi, juz: 6, halaman: 203.
(Sumber: Majallah al-Buhuts al-Islamiyyah, juz: 26, halaman: 143).

يعطى الفقير من الزكاة قدر كفايته لسنة كاملة ، وإذا تبين لدافع الزكاة أن المعطى ليس فقيرا لم يلزمه القضاء إذا كان المعطى ظاهره الفقر .
Terjemah:
Zakat diberikan kepada fakir sekadar untuk mencukupi kebutuhannya selama satu tahun. Jika ternyata orang yang menerima zakat itu tidak fakir, maka si pemberi zakat tidak wajib meng-qadha’
(Sumber: Majallah al-Buhuts al-Islamiyyah, juz: 37, halaman: 179).
Berdasarkan beberapa jawaban diatas maka yang dilihat bukan per kepala keluarga atau per kepala fakir/miskin, akan tetapi berdasarkan kebutuhan.
Karena keterbatasan zakat yang ada, kita tidak mampu memenuhi kebutuhan fakir/miskin selama satu tahun, maka perlu dimusyawarahkan berapa yang perlu dibagi kepada keluarga fakir/miskin tersebut. Tidak adil jika keluarga fakir/miskin yang punya anak satu orang dan yang punya anak tujuh orang sama-sama mendapat 10 kg beras. Untuk itu perlu dimusyawarahkan, berdasarkan firman Allah:
وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ
“Sٍedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka”. (Qs. asy-Syuura [42]: 38).
Wallahu a’lam bi ash-shawab

1 komentar: