Rabu, 25 Agustus 2010

Kajian Hadits Masjid Akramunnas UNRI.

Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.
Sabtu, 18 Ramadhan 1431H / 28 Agustus 2010

Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يُجَاوِرُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ، وَيَقُولُ « تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ » .
Dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah Saw melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Beliau bersabda, “Carilah Lailatulqadar pada sepuluh terakhir Ramadhan”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - زَوْجِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ .
Dari ‘Aisyah istri Rasulullah Saw, sesungguhnya Rasulullah Saw melaksanakan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau melaksankan I’tikaf setelah itu. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

وقال الزهري: «عجباً من الناس، كيف تركوا الاعتكاف، ورسول الله صلّى الله عليه وسلم كان يفعل الشيء ويتركه، وما ترك الاعتكاف حتى قبض» .
Imam az-Zuhri berkata, “Manusia itu aneh, mengapa mereka tidak melakukan I’tikaf, biasanya Rasulullah Saw melakukan sesuatu kemudian tidak melakukannya. Sedangkan I’tikaf, beliau tidak pernah meninggalkannya hingga beliau wafat”.
(Sumber: al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, juz: 3, halaman: 123).

Tempat I’tikaf:
والخلاصة: إن المالكية والشافعية يجيزون الاعتكاف في أي مسجد، والحنفية والحنابلة يشترطو ن كونه في المسجد الجامع، ولا يجوز عند الجمهور الاعتكاف في مسجد البيوت، ويجوز ذلك للمرأة عند الحنفية.
Kesimpulan: Mazhab Maliki dan Syafi’i membolehkan I’tikaf di setiap masjid.
Mazhab Hanafi dan Mazhab Hanbali mensyaratkan I’tikaf di Masjid Jami’.
Menurut jumhur ulama: tidak boleh I’tikaf di masjid bait (rumah).
Menurut Mazhab Hanafi: perempuan boleh I’tikaf di masjid bait (rumah).
(Sumber: al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, juz: 3, halaman: 128).

Lama Waktu I’tikaf:
I’tikaf sunnat tidak memiliki batasan waktu. I’tikaf terwujud dengan menetap di masjid dengan niat I’tikaf, apakah dalam waktu yang lama ataupun sebentar. Orang yang melakukannya tetap mendapatkan pahala selama ia berada di dalam masjid. Jika ia keluar, kemudian ia kembali, maka ia memperbaharui niat jika ia ingin berniat I’tikaf. Diriwayatkan dari Ya’la bin Umayyah, ia berkata, “Saya menetap di masjid sesaat untuk menetap, saya gunakan untuk I’tikaf”. ‘Atha’ berkata, “Seseorang itu beri’tikaf selama ia berada di masjid, jika ia duduk di masjid untuk mendapatkan kebaikan, maka berarti ia orang yang sedang beri’tikaf. Jika tidak untuk mendapatkan kebaikan, berarti tidak beri’tikaf.
(Sumber: Fiqh as-Sunnah, Syekh Sayyid Sabib, juz: 1, halaman: 475.

Keluar Masjid Karena Perlu:
الخروج للحاجة التي لا بد منها، قالت عائشة: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا اعتكف يدني إلي رأسه فأرجله، وكان لا يدخل البيت إلا لحاجة الانسان. رواه البخاري ومسلم وغيرهما.
وقال ابن المنذر: أجمع العلماء على أن للمعتكف أن يخرج من معتكفه للغائط والبول، لان هذا مما لا بد منه.
ولا يمكن فعله في المسجد، وفي معناه الحاجة إلى المأكول والمشروب إذا لم يكن له من يأتيه به فله الخروج إليه، وإن بغته القئ فله أن يخرج ليقئ خارج المسجد، وكل ما لا بد منه ولا يمكن فعله في المسجد فله خروجه إليه، ولا يفسد اعتكافه ما لم يطل. انتهى.
ومثل هذا الخروج للغسل من الجنابة وتطهير البدن والثوب من النجاسة.
Keluar masjid karena suatu kebutuhan. Aisyah berkata, “Ketika Rasulullah Saw I’tikaf, tangan saya ke kepala beliau, saya menyisirnya. Beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena kebutuhan. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Muslim dan imam lain.
Ibnu al-Mundzir berkata, “Para ulama telah Ijma’ bahwa orang yang I’tikaf boleh keluar dari tempat I’tikafnya untuk buang air besar dan kecil, karena ini suatu kebutuhan, tidak mungkin dilakukan di dalam masjid. Semakna dengan itu juga adalah makan dan minum, jika tidak ada orang lain yang mengantarkannya, maka orang yang I’tikaf boleh keluar dari masjid. Jika ia ingin muntah, maka ia juga boleh keluar untuk muntah di luar masjid. Semua perkara yang mesti dilakukan dan tidak mungkin dilakukan di dalam masjid, maka orang yang I’tikaf boleh keluar dari dalam masjid, I’tikafnya tidak batal, selama tidak terlalu lama, selesai.
Sama juga seperti ini, keluar dari dalam masjid ntuk mandi wajib, membersihkan badan dan pakaian dari najis.
(Sumber: Fiqh as-Sunnah, Syekh Sayyid Sabiq, juz: 1, halaman: 481-482).

Tujuan I’tikaf:
Kesucian hati dengan terus menerus merasakan pengawasan Allah Swt dan menyambut kemuliaan-Nya. Mengkonsentrasikan diri hanya untuk beribadah kepada Allah Swt dan melepaskan dari semua aktifitas, hanya untuk beribadah kepada Allah Swt. Melepaskan diri dari kesibukan dan aktifitas duniawi. Menyerahkan diri kepada Allah Swt dengan menyerahkan semua perkara kepada-Nya, bersandar hanya pada kemuliaan-Nya dan berhenti di depan pintu keagungan-Nya. Terus beribadah kepada-Nya di rumah-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya agar lebih dekat kepada rahmat-Nya. Menjaga diri dengan pemeliharaan-Nya. I’tikaf adalah amal yang paling mulia dan paling dicintai Allah Swt jika didasari keikhlasan hanya kepada-Nya. Karena orang yang melaksanakan I’tikaf itu menantikan waktu-waktu pelaksanaan shalat, maka seakan-akan ia seperti orang yang sedang melaksanakan shalat secara terus menerus. Ia dalam keondisi spritual yang sangat dekat dengan Allah Swt.
Jika ia dalam keadaan berpuasa, maka itu semakin membuatnya merasa semakin dekat dengan Allah Swt, karena limpahan kesucian hati dan ketulusan jiwa yang dirasakan orang-orang yang berpuasa. I’tikaf lebih utama (afdhal) dilakukan pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan untuk mencari Lailatulqadar yang lebih baik daripada seribu bulan.
(Disunting dari: al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, juz: 3, halaman: 124).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar