Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri penyembuh. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri penyembuh. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Mei 2012

Zikir Pagi dan Petang

ZIKIR & AMALAN PAGI DAN PETANG

الحصون المنيعة



Disusun Oleh:
Syekh As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawy Al-Maliki Al-Hasani.

Diterjemahkan Oleh:
H. Abdul Somad, Lc., MA.

Ash-Shalawat Al-Ibrahimiyyah.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى  سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وعلى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ ، وبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وعلى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarganya, sebagaimana telah Engkau limpahkan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Berikanlah berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana telah Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, pada semesta alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Shalawat Al-Fatih.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى  سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلْفَاتِحُ لِمَا أُغْلِق، وَالْخَاتِمُ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرُ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِيْ إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad, Pembuka semua yang tertutup, penutup para nabi terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran, penunjuk kepada jalan-Mu yang lurus, dan kepada keluarga dan para shahabatnya dengan kebenaran kemuliaannya yang agung.


Ayat-Ayat Asy-Syifa’ (Penyembuh).

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Qs. Al-Isra’ [17]: 82).
وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ
“Serta melegakan hati orang-orang yang beriman”. (Qs. At-Taubah [9]: 14).

وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ
“Dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada”. (Qs. Yunus [10]: 57).

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ
“Katakanlah: ‘Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin”. (Qs. Fushshilat [41]: 44).

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku”. (Qs. Asy-Syu’ara’ [26]: 80).

فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ
“Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia”. (Qs. An-Nahl [16]: 69).

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
اَللَّهُمَّ إِنِّي أُقَدِّمُ إِلَيْكَ بَيْنَ يَدَيْ كُلِّ نَفَسٍ وَلَمْحَةٍ وَطَرْفَةٍ يَطْرِفُ بِهَا أَهْلُ السَّمَوَاتِ وَأَهْلُ الأَرْضِ وَكُلُّ شَيْءٍ هُوَ فِيْ عِلْمِكَ كَائِنٌ أَوْ قَدْ كَانَ، أُقَدِّمُ إِلَيْكَ بَيْنَ يَدَيْ ذَلِكَ كُلِّهِ: لاِ اِلَهَ إِلَّا الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلْمُ الله
Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ya Allah, sesungguhnya aku mempersembahkan ke hadapan-Mu setiap hembusan nafas, lintasan dan kedipan para penghuni bumi dan langit serta semua yang ada dalam pengetahuan-Mu, apakah yang sedang terjadi atau pun yang telah terjadi. Aku persembahkan ke hadapan-Mu semua itu: Tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah rasul utusan Allah, dalam setiap lintasan dan nafas sejumlah apa yang diliputi pengetahuan Allah Swt.
[Dibaca tiga kali setelah shalat, atau sesuai kemampuan di luar waktu-waktu setelah shalat].

سورة الفاتحة
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasaidi hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (Qs. Al-Fatihah [1]: 1-7).
[Surat teragung dan paling afdhal dalam Al-Qur’an. Surat al-Fatihah disebut juga Al-Wafiyah (Memenuhi balasan), Al-Waqiyah (Pemelihara), Al-Kanz (Perbendaharaan), Al-Asas (Dasar), Asy-Syifa’ (Penyembuh), Ar-Ruqyah, Ad-Dawa’ (Obat) dan Al-Fatihah juga adalah Ummu al-Qur’an].

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، يُحْيِي وَيُمِيْتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Tiada tuhan selain Allah, Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kuasa dan pujian. Menghidupkan dan Mematikan. Di tangan-Nya ada kebaikan. Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
[Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa siapa yang membaca doa ini pada waktu pagi sepuluh kali, maka dituliskan baginya sepuluh kebaikan, dihapuskan sepuluh kesalahan, diangkat sepuluh tingkatan kemuliaan di sisi Allah Swt. Sama seperti membebaskan empat hamba sahaya. Diberikan para penjaga hingga petang hari. Siapa yang membacanya setelah shalat Maghrib, maka ia mendapatkan yang sama hingga waktu Maghrib. Hadits riwayat: Ahmad bin Hanbal, Ath-Thabrani, Sa’id bin Manshur dan lainnya].

Ayat Kursi.
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 255).
[Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca ayat ini setiap selesai shalat, maka tidak ada penghalang antara ia dan surga melainkan kematian”. Hadits riwayat ath-Thabrani dan al-Baihaqi].
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256) اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (257)
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 256 – 257).

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)
“Alif laam miin. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 1 -  5).

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (284) آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Qs. Al-Baqarah [284 – 286).
[Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca ayat Kursi, ditambah dua ayat setelahnya, empat ayat di awal surat al-Baqarah dan penutup surat al-Baqarah. Maka rumahnya tidak akan dimasuki setan hingga pagi hari”. Hadits riwayat ath-Thabrani dan al-Hakim].

Surat al-Ikhlas, Surat al-Falaq dan Surat an-Nas.
[Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca ketiga surat ini tiga kali di waktu pagi dan tiga kali di waktu petang, maka cukuplah itu baginya atas segala sesuatu”. Hadits riwayat Abu Daud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i].
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”. (Qs. Al ‘Imran [3]: 173).
[Mengekalkan nikmat, menambah karunia Allah Swt, memberikan rasa aman ketika dalam ketakutan dan memberikan hidayah menuju keridhaan Allah Swt].

حَسْبِىَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Cukuplah Allah Swt menjadi Penolongku, tiada tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakkal. Dialah Tuhan Pemilik ‘Arsy yang agung”.
[Rasulullah Saw bersabda: “Siapa membaca doa ini tujuh kali di waktu pagi dan petang, maka Allah Swt menghilangkan kesulitan dunia dan akhirat baginya”. Hadits riwayat Abu Daud].

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًا
“Maha Suci Allah dan dengan pujian-Nya. Tiada kekuatan selain dengan Allah. Terjadi karena kehendak Allah dan tidak terjadi karena Ia tidak bekehendak. Aku mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Swt Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya pengetahuan Allah Swt meliputi segala sesuatu”.
[Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca doa ini ketika pagi, maka ia akan dijaga hingga petang. Siapa yang membaca doa ini di waktu petang, maka ia akan dijaga hingga pagi”. Hadits riwayat Abu Daud].
بِسْمِ اللَّهِ آمَنْتُ بِاللَّهِ اعْتَصَمْتُ بِاللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
“Dengan nama Allah, aku beriman kepada Allah, aku berpegang teguh dengan tali Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah”.
[Rasulullah Saw bersabda: “Setiap muslim yang keluar dari rumahnya ingin melakukan suatu perjalanan atau urusan lain, ia mengucapkan doa ini, maka Allah Swt akan memberikan kebaikan kepadanya dari tempat ia pergi tersebut”. Hadits riwayat Imam Ahmad bin Hanbal].

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ
Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
[Rasulullah Saw memerintahkan memperbanyak membaca doa ini karena dapat menjauhkan dari tujuh puluh musibah, yang paling ringan adalah kesusahan hati. Doa ini satu dari beberapa perbendaharaan surga. Obat bagi Sembilan puluh Sembilan penyakit. Doa ini adalah tanaman surga. Doa ini penyebab kekalnya nikmat Allah Swt. Siapa yang membacanya seratus kali, maka akan dijauhkan dari kefakiran. Doa ini menolak tujuh puluh pintu mudharat, yang paling ringan adalah kefakiran. Dikutip dari beberapa hadits].
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun yang dapat memudharatkan dengan namanya, baik di bumi maupun di langit. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
[Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca doa ini tiga kali di waktu pagi dan tiga kali di waktu petang, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat memudharatkannya”. Hadits riwayat Abu Daud dan at-Tirmidzi].
سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ وَلاَ حَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالله
“Maha Suci Allah dan dengan pujian-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan dengan pujian-Nya. Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah”.
[Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca doa ini tiga kali setelah Shubuh dan tiga kali setelah Maghrib, maka Allah akan memeliharanya dari empat bala: gila, kusta, buta dan lumpuh”. Hadits riwayat Ibnu As-Sinni dari Ibnu Abbas].
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan semua makhluk”.
[Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca doa ini tiga kali di waktu pagi dan petang, maka ia terpelihara dari sengatan binatang berbisa pada malam dan siang”. Hadits riwayat At-Tirmidzi].
مَا شَاءَ اللَّهُ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
“Kehendak Allah, tiada kekuatan selain dengan Allah”.
[Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang diberi nikmat pasangan, harta dan anak, kemudian ia membaca doa diatas, maka akan dijauhkan dari cela hingga kematian tiba”. Hadits riwayat ath-Thabrani dan al-Baihaqi].
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ عَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ ، مَا شَاءَ الله كاَنَ ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ ، لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِيِّ الْعَظِيْمِ ، أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر ، وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْماً ، اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا  إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ
“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tiada tuhan selain Engkau, kepada-Mu aku bertawakkal, Engkau Pemilik ‘Arsy yang agung. Terjadi karena kehendak Allah, tidak terjadi karena tidak ada kehendak Allah. Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah Swt Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Aku mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya Allah telah meliputi segala sesuatu dengan pengetahuan-Nya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku dan kejahatan semua yang memiliki kejahatan serta dari kejahatan makhluk yang Engkau kuasai. Sesungguhnya Tuhanku berada dalam jalan yang lurus”.
[Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca doa ini, maka keluarga dan harta bendanya tidak akan ditimpa sesuatu yang tidak ia sukai”. Hadits riwayat al-Baihaqi].

Shalat Dhuha.
Minimal shalat Dhuha dua rakaat hingga delapan rakaat. Waktu pelaksanaannya diawali ketika waktu dibolehkan melaksanakan shalat Sunnat di pagi hari hingga waktu Zawal (tergelincir matahari). Disebutkan di beberapa hadits bahwa shalat Dhuha menjadi penyebab kekalnya nikmat Allah Swt, kelapangan rezeki, menjaga kesehatan, ungkapan syukur atas nikmat dan menolak bencana.

Sayyid al-Istighfar.
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، خَلَقْتَنِى وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِى ، اغْفِرْ لِى ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْت
Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tiada tuhan selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perjanjian dengan-Mu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang telah aku lakukan. Aku datang kepada-Mu membaca nikmat-Mu kepadaku dan aku datang membawa dosaku. Ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.
[Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca Sayyidul-istighfar ini pada waktu petang dengan penuh keyakinan, ia meninggal dunia di waktu malam, maka ia akan masuk surga. Siapa yang membaca Sayyidul-istighfar ini pada waktu pagi dengan penuh keyakinan, ia meninggal di waktu siang, maka ia akan masuk surge”. Hadits riwayat Imam al-Bukhari].

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Aku memohon ampun kepada Allah yang tiada tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Maha Mengatur segala sesuatu, aku bertaubat kepada-Nya.
[Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah Swt akan memberikan kelapangan dari setiap kesulitannya, memberikan jalan keluar terhadap kesempitannya dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia sangka-sangka”. Hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah].

Memperbanyak Sedekah dan Shalawat Kepada Rasulullah Saw.

Shalawat Al-Faraj.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ صَلاَةَ عَبْدٍ قَلَّتْ حِيْلَتُهُ، وَرَسُوْلُ الله وَسِيْلَتُهُ، وَأَنْتَ لَهَا يَا إِلَهِيْ وَلِكُلِّ كَرْبٍ عَظِيْمٍ، فَفَرِّجْ عَنَّا ماَ نَحْنُ فِيْهِ بِسِرِّ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam serta berkah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan shahabatnya, shalawat dari seorang hamba yang sedikit usahanya dan Rasulullah sebagai wasilahnya. Engkaulah wahai Tuhanku yang melimpahkan shalawat dan dan melepaskan dari semua bencana. Maka lepaskanlah kami dari bencana yang kami alami berkat rahasia Bismillahirrahmanirrahim”.

Kamis, 02 Juli 2015

Khutbah Idul Fithri 1436H/2015M


MELESTARIKAN NILAI-NILAI RAMADHAN
DENGAN ISTIQOMAH SEPANJANG HAYAT
Khutbah Idul Fithri 1 Syawwal 1436H / 17 Juli 2015M.
Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.

Khutbah Pertama:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ، اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.
 اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
 اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
 اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
قاَلَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
 اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَاللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jama'ah sholat Idul Fitri yang dimuliakan Allah …
Menetes air mata orang beriman mengiringi tenggelamnya matahari kemarin sore, seiring terbitnya hilal Syawwal, maka berpisahlah kita dengan Ramadhan. Berpisahlah kita dengan bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam, jika kita beribadah pada malam itu, maka kita mendapatkan keutamaan ibadah yang lebih baik daripada ibadah seribu bulan. Kita telah berpisah dengan bulan yang di dalamnya terdapat limpahan rahmat dan ampunan Allah yang berlipat ganda. Kita telah ditinggalkan oleh bulan yang puasa di dalamnya menutupi salah dan dosa. Kita telah ditinggalkan oleh bulan turunnya Al-Qur’an pedoman umat manusia.
            Tidak ada yang dapat menjamin bahwa kita akan bertemu lagi dengan bulan yang penuh dengan berkah itu. Betapa banyak orang-orang yang kita kasihi dan kita sayangi, orang-orang tua kita, saudara, kerabat dan para tetangga. Mereka yang dulu pernah bersama-sama dengan kita, masih terbayang senyuman mereka di pelupuk mata. Tapi kini, mereka tidak lagi bersama-sama dengan kita. Mereka telah berada di alam baka, hanya tinggal kenangan yang tak mungkin akan terlupa.
            Mari kita bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah kepada kita. Orang yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Allah berfirman,
وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Qs. Luqman [31]: 12).
Semoga dengan bersyukur, Allah menambah nikmat-Nya kepada kita semua, sesuai janji-Nya:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Qs. Ibrahim [14]: 7).
            Selanjutnya mari kita bershalawat kepada nabi besar Muhammad Saw. Untuk apa kita bershalawat?! Jika di dunia ini kita membutuhkan pertolongan, maka kita bisa meminta tolong kepada saudara-saudara kita, kerabat dan para sahabat. Akan tetapi akan ada suatu masa nanti, seperti yang difirman Allah:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya”. (Qs. ‘Abasa [80]: 34-36). Mengapa semua orang melarikan diri dari orang-orang yang mereka kasihi?! Padahal di dunia dahulu mereka tidak bisa berpisah walau sedetik pun.
لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”. (Qs. ‘Abasa [80]: 37). Saat itu kita sibuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita; langkah kaki, hayunan tangan, tatapan mata, pendengaran bahkan gerak hati. Ketika tidak ada yang dapat menolong, pada saat tidak ada yang bisa membantu. Maka ketika itu kita mengharapkan pertolongan dan syafaat Rasulullah Saw. Mari kita memperbanyak shalawat, semoga kita termasuk umat yang mendapatkan syafaatnya, amin ya Robbal’alamin.

اللهُ اَكبَرْ (3×) لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.
Jamaah Idul Fithri yang dimuliakan Allah …
Tujuan dari puasa adalah menciptakan manusia yang bertaqwa. Dan kedudukan manusia di sisi Allah diukur dari ketakwaannya. Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat [49]: 13).
Manusia dianggap mulia bukan karena hartanya, bukan karena jabatannya, bukan pula karena bentuk dan rupanya. Rasulullah Saw bersabda:
إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ ، ولا إِلى صُوَرِكمْ ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kamu dan tidak melihat kepada bentuk kamu, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan perbuatan kamu”. (HR.Muslim).
Janji Allah Swt untuk orang-orang yang takut kepada-Nya :
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ (46)
“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga[1446].
[1446] Yang dimaksud dua syurga di sini adalah, yang satu untuk manusia yang satu lagi untuk jin. Ada juga ahli tafsir yang berpendapat syurga dunia dan syurga akhirat”. (Qs. ar-Rahman [55]: 46).
اللهُ اَكبَرْ (3×) لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.
Jamaah Idul Fithri yang dimuliakan Allah …
Allah Swt bercerita tentang balasan yang telah Ia siapkan untuk orang-orang yang bertakwa:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (Qs. Al ‘Imran [3]: 33).
            Satu bulan penuh kita ditempa dilatih dalam berbagai kebaikan. Bulan Ramadhan yang telah kita lalui bukanlah bulan menumpuk amal. Akan tetapi bulan membiasakan diri beramal agar dapat kita laksanakan di bulan-bulan yang akan datang yang pada akhirnya kita istiqomah hingga kematian tiba. Diantara amal-amal yang mesti kita lestarikan adalah:
Pertama, takut kepada Allah Swt.
Di saat Ramadhan, kita amat sangat takut kepada Allah Swt. Kita tidak makan, tidak minum, tidak melihat yang haram, tidak membicarakan yang haram. Semua larangan Allah Swt kita patuhi. Mari kita bawa rasa takut itu hingga kita mati. Krisis kita saat ini adalah krisis tidak adanya rasa takut kepada Allah Swt. Andai seorang suami takut kepada Allah, maka ia tidak akan menyia-nyiakan istri dan anak-anaknya. Jika seorang istri takut kepada Allah, ia tidak akan mengkhianati suaminya. Jika seorang anak takut kepada Allah, maka ia tidak akan menjadi anak durhaka yang menyia-nyiakan kedua orang tuanya. Andai rakyat takut kepada Allah, maka tidak akan ada rakyat melawan pemimpin. Andai pemimpin takut kepada Allah, maka tidak akan ada pemimpin yang memakan hak dan menganiaya rakyatnya. Rasa takut itulah yang menghalangi orang dari perbuatan membunuh sesama,
لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”. (Qs. al-Ma’idah [5]: 28). Rasa takut itu pula yang menghalangi orang dari perbuatan zina,
وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ
“Seseorang yang diajak berzina, yang mengajak itu memiliki fisik yang bagus dan kedudukan yang tinggi. Tapi yang diajak itu menjawab, “Aku takut kepada Allah Swt”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Rasa takut itu pula yang dapat mencegah manusia terjerumus ke dalam perbuatan mengikuti hawa nafsu,
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya)”. (Qs. an-Nazi’at [79]: 40-41).

Kedua, berbagi kepada sesama manusia.
Setelah merasakan sakitnya lapar, di saat berbuka kita berbagi makanan kepada sesama. Mari kita jaga semangat berbagi itu. Saat ini banyak orang tidak memperdulikan saudaranya. Keimanan seseorang diukur dari sikap empatinya kepada saudaranya,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Kamu tidak beriman, hingga kamu menyayangi saudaramu seperti menyayangi diri sendiri”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Orang yang mengaku beriman, tapi tidak mau berbagi, maka diragukan keimanannya,
ليس بالمؤمن الذى يبيت شبعانا وجاره جائع إلى جنبه
“Bukan orang beriman, orang yang sanggup tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya di sampingnya dalam keadaan lapar”. (HR. al-Hakim).

Ketiga, qiyamullail.
Bangun malam amat sangat sulit, tapi selama Ramadhan ini kita bangun malam. Bukan hanya untuk makan sahur. Tapi untuk melaksanakan Qiyamullail. Allah Swt berfirman,
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (Qs. al-Isra’ [17]: 79). Surga dijanjikan Allah Swt untuk orang yang melaksanakan tahajjud di waktu malam,
أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
“Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makanan kepada orang miskin, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang banyak tidur, maka kamu akan masuk surga dengan selamat”. (HR. at-Tirmidzi).

Keempat, membaca al-Qur’an.
Kita khatamkan al-Qur’an di bulan Ramadhan, bukan berarti setelah Ramadhan kita meninggalkan al-Qur’an. Karena al-Qur’an adalah penyembuh hati yang sempit,
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. al-Isra’ [17]: 82).
Al-Qur’an akan menjadi penolong di hari kiamat, saat anak dan harta tidak lagi berguna,
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya”. (HR. Muslim).

Kelima, menyambung Silaturrahim.
Setiap malam kita bertemu dengan keluarga, teman dan sahabat selama Ramadhan. Dalam tarawih dan tadarus. Hubungan baik dengan keluarga kita lanjutkan dalam Silaturrahim. Hubungan baik dengan sahabat kita lanjutkan dalam Ukhuwwah Islamiyyah. Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya, dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahim”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Sebaliknya, orang-orang yang memutus silaturrahim. Maka Rasulullah Saw memberikan ancaman,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ
“Orang yang memutuskan silaturrahim tidak akan masuk surga”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hubungan yang baik dapat mengampuni dosa-dosa, sebagaimana sabda Rasulullah Saw,
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا
“Dua orang muslim yang bertemu, bersalaman, Allah mengampuni dosa-dosa mereka berdua sebelum mereka berpisah”. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah).
Mengawali ibadah itu sulit, namun ada yang lebih sulit, yaitu istiqomah dalam ibadah.
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِم
Sufyan bin Abdillah at-Tsaqafi berkata, “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku sesuatu agar aku berpegang teguh dengan itu”. Rasulullah Saw menjawab, “Katakanlah, ‘Tuhanku Allah, kemudian istiqomahlah”. (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Allah Swt menjanjikan balasan untuk orang-orang yang istiqomah,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Qs. Fusshilat [41]: 30). Maka untuk istiqomah, kita lanjutkan nilai-nilai Ramadhan di luar Ramadhan.
Semua kembali kepada kita, mari kita jadikan puasa yang telah kita laksanakan itu sebagai ibadah yang dapat membentuk diri kita, mengampuni dosa-dosa kita, melipatgandakan balasan amal ibadah kita dan balasan kebaikan untuk kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang mendapatkan ampunan dari Allah SWT, amin ya Robbal’alamin.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ








Khutbah Kedua:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْراً، وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ، اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.
اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ.
 اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
اَمَّا بَعْدُ، فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ، وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى، يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، اَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ، وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَْلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ ،اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ اَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْن وَفي مَشَارِقِ الأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَباَءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً، وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ، وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَر وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.