Rabu, 01 September 2010

Khutbah Idul Fithri 1 Syawwal 1431H / 10 September 2010M.

Oleh: H. Abdul Somad, Lc.,MA.
somadmorocco.blogspot.com
somadku@yahoo.com

Khutbah Pertama:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ، اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
قاَلَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَاللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jama'ah sholat Idul Fitri yang dimuliakan Allah …
Dengan terbitnya hilal Syawwal, maka berpisahlah kita dengan Ramadhan. Berpisahlah kita dengan bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam, jika kita beribadah pada malam itu, maka kita mendapatkan keutamaan ibadah yang lebih baik daripada ibadah seribu bulan. Kita telah berpisah dengan bulan yang di dalamnya terdapat limpahan rahmat dan ampunan Allah yang berlipat ganda. Kita telah ditinggalkan oleh bulan yang puasa di dalamnya menutupi salah dan dosa. Kita telah ditinggalkan oleh bulan turunnya Al-Qur’an pedoman umat manusia.
Tidak ada yang dapat menjamin bahwa kita akan bertemu lagi dengan bulan yang penuh dengan berkah itu. Betapa banyak orang-orang yang kita kasihi dan kita sayangi, orang-orang tua kita, saudara, kerabat dan para tetangga. Mereka yang dulu pernah bersama-sama dengan kita, masih terbayang senyuman mereka di pelupuk mata. Tapi kini, mereka tidak lagi bersama-sama dengan kita. Mereka telah berada di alam baka, hanya tinggal kenangan yang tak mungkin akan terlupa.
Mari kita bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah kepada kita. Orang yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Allah berfirman,
وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Qs. Luqman [31]: 12).
Semoga dengan bersyukur, Allah menambah nikmat-Nya kepada kita semua, sesuai janji-Nya:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Qs. Ibrahim [14]: 7).
Selanjutnya mari kita bershalawat kepada nabi besar Muhammad Saw. Untuk apa kita bershalawat?! Jika di dunia ini kita membutuhkan pertolongan, maka kita bisa meminta tolong kepada saudara-saudara kita, kerabat dan para sahabat. Akan tetapi akan ada suatu masa nanti, seperti yang difirman Allah:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya”. (Qs. ‘Abasa [80]: 34-36). Mengapa semua orang melarikan diri dari orang-orang yang mereka kasihi?! Padahal di dunia dahulu mereka tidak bisa berpisah walau sedetik pun.
لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”. (Qs. ‘Abasa [80]: 37). Saat itu kita sibuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita; langkah kaki, hayunan tangan, tatapan mata, pendengaran bahkan gerak hati. Ketika tidak ada yang dapat menolong, pada saat tidak ada yang bisa membantu. Maka ketika itu kita mengharapkan pertolongan dan syafaat Rasulullah Saw. Mari kita memperbanyak shalawat, semoga kita termasuk umat yang mendapatkan syafaatnya, amin ya Robbal’alamin.

اللهُ اَكبَرْ (3×) لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.
Jamaah Idul Fithri yang dimuliakan Allah …
Tujuan dari puasa adalah menciptakan manusia yang bertaqwa. Dan kedudukan manusia di sisi Allah diukur dari ketakwaannya. Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat [49]: 13).
Manusia dianggap mulia bukan karena hartanya, bukan karena jabatannya, bukan pula karena bentuk dan rupanya. Rasulullah Saw bersabda:
إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ ، ولا إِلى صُوَرِكمْ ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kamu dan tidak melihat kepada bentuk kamu, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan perbuatan kamu”. (HR.Muslim). Apakah takwa itu ? Imam Ali mendefinikan takwa sebagai :
اَلْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ، وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ، وَالرِّضَا بِالْقَلِيْلِ، وَالاِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ
Mesti ada empat unsur dalam diri kita, barulah kita layak disebut sebagai orang yang bertakwa.
Pertama : اَلْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ takut kepada Allah.
Di siang Ramadhan, kita tahan diri kita dari segala sesuatu yang halal, karena takut kepada Allah. Maka diharapkan di luar Ramadhan ini kita mampu menahan diri kita dari segala yang haram, juga karena takut kepada Allah. Kita tumbuhkan rasa takut selama tiga puluh hari ini, agar ia bersemayam dan kekal abadi di dalam hati kita sampai Ramadhan yang akan datang.
Janji Allah Swt untuk orang-orang yang takut kepada-Nya :
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ (46)
“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga[1446].
[1446] Yang dimaksud dua syurga di sini adalah, yang satu untuk manusia yang satu lagi untuk jin. Ada juga ahli tafsir yang berpendapat syurga dunia dan syurga akhirat”. (Qs. ar-Rahman [55]: 46).
Kedua : وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ melaksanakan isi kandungan Al-Qur’an.
Di bulan Ramadhan, bulan turunnya Al-Qur’an, kita perbanyak bertadarus Al-Qur’an. Maka mari kita laksanakan isi dan kandungannya dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Al-Qur’an bukan hanya sekedar dibaca dan diperdengarkan, akan tetapi lebih daripada itu, al-Qur’an dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan.
Ketiga : وَالرِّضَا بِالْقَلِيْلِ Ridha terhadap ketentuan Allah. Setelah kita berusaha, maka kita mesti menerima ketentuan Allah. Jangan sampai hasrat dan ambisi mendorong kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Di bulan Ramadhan kita diajarkan mengenali hakikat hawa nafsu. Kalau kita sudah mengenalnya dengan baik, maka mudah bagi kita mengendalikannya dan tidak tertipu oleh nafsu.
Keempat : وَالاِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ mempersiapkan diri menghadapi hari kematian. Sudahkah kita persiapkan diri kita untuk menghadapi hari kematian itu ?! Rasulullah SAW bersabda :
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Yang mengiringi mayat itu ada tiga, yang dua kembali, sedangkan yang kekal hanya satu. Mayat itu diiringi keluarga, harta dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan yang menetap hanyalah amalnya”. (HR.At-Tirmidzi).
Selama ini kita sibuk mengurus yang dua perkara tersebut ; harta dan keluarga, kita lalaikan yang satu. Padahal yang satu itulah yang akan menemani kita. Kalau kita mengaku sebagai orang yang bertakwa, maka mari kita siapkan diri kita menghadap hari kematian itu.
اللهُ اَكبَرْ (3×) لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.
Jamaah Idul Fithri yang dimuliakan Allah …
Allah Swt bercerita tentang balasan yang telah Ia siapkan untuk orang-orang yang bertakwa:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (Qs. Al ‘Imran [3]: 33).
Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah menyebutkan sifat-sifat yang bertakwa tersebut:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”. (Qs. Al ‘Imran [3]: 134-136).
Sifat pertama: الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
(orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit)
Pada bulan Ramadhan kita diingkatkan kepada penderitaan saudara-saudara kita yang tidak seberuntung kita. Kalau kita lapar hanya 14 jam, maka mereka mungkin lapar 14 hari atau lebih dari itu. Kalau kita haus hanya sesaat, maka mereka menahan haus dan penderitaan dalam sebagian dari usia mereka. Rasa empati tersebut langsung kita wujudkan dalam bentuk membayar zakat Fitrah. Paling tidak hari ini kita berbagi kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung agar dapat merayakan hari raya ini dalam keadaan perut kenyang. Akan tetapi tujuan yang sebenarnya adalah agar puasa menyentuh hati dan perasaan kita yang pada akhirnya kita menyisihkan 2,5 persen dari rezeki yang dititipkan Allah kepada kita, untuk kita berikan kepada mereka. Karena sebenarnya itu adalah milik mereka. Allah berfirman,
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24) لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (Qs. Al-Ma’arij [70]: 24).
Kadar iman kita ditentukan sejauh mana kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم – قَالَ: لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.
Dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda: “Salah seorang kamu belum beriman, hingga ia mengasihi saudaranya seperti ia mengasihi dirinya sendiri”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sifat yang kedua: وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ (orang-orang yang menahan amarahnya).
Rasulullah Saw bersabda:
« لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ » .
“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika ia marah”. (HR. al-Bukhari). Pada bulan Ramadhan kita mampu mengendalikan amarah, maka semangat pengendalian amarah itu kita bawa ke luar Ramadhan.
Sifat yang ketiga: وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ (mema'afkan (kesalahan) orang).
Ada orang yang mampu menahan amarah, tapi sulit untuk memaafkan kesalahan orang lain. Orang yang bertakwa memiliki kedua sifat ini; mampu menahan amarah, sekaligus memaafkan kesalahan orang lain. Tak ada manusia yang tidak bersalah,
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ ».
Dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Semua anak Adam (manusia) itu bersalah, dan sebaik-baik orang-orang yang bersalah adalah orang-orang yang bertaubat (dari kesalahannya)”. (HR. at-Tirmidzi). Manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak bersalah, karena tak ada manusia yang luput dari silap dan salah. Manusia yang baik adalah manusia yang pernah berbuat salah, kemudian memperbaiki dirinya. Mari kita berjiwa besar untuk memohon maaf atas segala kesalahan kita. Di waktu yang sama, kita juga membuka pintu maaf atas segala kesalahan orang lain. Allah menjanjikan balasan yang besar bagi orang-orang yang sabar:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Qs. az-Zumar [39]: 10). Dengan menahan amarah yang diiringi pemberian maaf maka kita dapat menjalin silaturahim yang tulus. Menjalin silaturahim berarti kita telah menjalin hubungan baik dengan Allah Swt, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits Qudsi:
قاَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَناَ الله وَ أَنَا الرَّحْمَنُ خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَ شَقَقْتُ لَهَا مِنْ اِسْمِيْ فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ
Allah berfirman, “Aku adalah Allah, Aku adalah Yang Maha Penyayang. Aku ciptakan rahim dan aku ambil dari nama-Ku. Siapa yang menyambungkan tali silaturahim, maka aku jalin hubungan dengannya dan orang yang memutuskan tali silaturahim, maka Aku putuskan hubungan dengannya”. (HR.Al-Hakim).

Sifat yang keempat:
إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
(Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui).
Selalu berzikir mengingat Allah dan memohon ampunan-Nya, karena hanya Allah saja yang dapat mengampuni semua dosa, tentu saja permohonan ampunan itu dengan taubat yang sebenarnya. Allah Swt berfirman:
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan Nashuha”. (Qs. At-Tahrim [66]: 8). Apakah taubat Nashuha itu?! Menurut Ibnu Abbas, setidaknya mesti ada tiga unsur di dalamnya:
النَّدَمُ بِالْقَلْبِ وَالِاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ وَالْإِضْمَارُ أَنْ لَا يَعُودَ إلَيْهِ أَبَدًا
• Penyesalan di dalam hati.
• Beristighfar memohon ampun dengan lisan.
• Bertekad untuk tidak mengulanginya untuk selama-lamanya.
Itulah sifat-sifat orang yang bertakwa.
Itulah orang-orang yang disebutkan Rasulullah SAW,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (البخاري ومسلم).
“Siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan karena hanya mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR.Al-Bukhari dan Muslim).
Sebaliknya, orang-orang yang tidak memiliki sifat-sifat itu, maka ia tergolong dalam sabda Rasulullah SAW,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ ».
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa, akan tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali hanya lapar saja. Dan berapa banyak orang yang melaksanakan Qiyamullail, akan tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari Qiyamullailnya melainkan hanya sekedar tidak tidur saja”. (HR.An-Nasa’i).
Jika kita mampu menjadi orang-orang yang bertakwa, maka Allah berjanji akan membukakan pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Qs. al-A’raf [7]: 96).
Jika kita mampu menjadi orang yang bertakwa, maka Allah akan berikan solusi terhadap permasalahan yang kita hadapi dan Ia berikan rezeki dengan cara yang tidak terduga:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (Qs. ath-Thalaq [65]: 2).
Jika kita mampu menjadi orang yang bertakwa, maka Allah akan ampuni dosa-dosa kita, bahkan akan melipatgandakan amal shaleh yang kita lakukan:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”. (Qs. ath-Thalaq [65]: 5).
Semua kembali kepada kita, mari kita jadikan puasa yang telah kita laksanakan itu sebagai ibadah yang dapat membentuk diri kita, mengampuni dosa-dosa kita, melipatgandakan balasan amal ibadah kita dan balasan kebaikan untuk kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang mendapatkan ampunan dari Allah SWT, amin ya Robbal’alamin.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْراً، وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ، اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.
اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا.
اَمَّا بَعْدُ، فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ، وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى، يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، اَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ، وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَْلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ ،اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ اَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَباَءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً، وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ، وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Zakat Fitrah Dengan Uang?

Diterjemahkan Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.

Pertanyaan:
Apakah zakat fitrah mesti dalam bentuk makanan pokok? Atau boleh dalam bentuk uang?

Jawaban:
Menurut jumhur (mayoritas ulama), zakat fitrah dibayarkan dalam bentuk makanan pokok:
وقال الجمهور : تؤدى زكاة الفطر من الحبوب والثمار المقتاتة وهي صاع
Jumhur ulama berpendapat: zakat fitrah ditunaikan dari biji-bijian dan buah-buahan yang dijadikan sebagai makanan pokok, sebanyak satu sha’.
(sumber: al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, juz: 3, halaman: 384).
Salah satu dalil jumhur ulama adalah:
حديث أبي سعيد الخدري: «كنا نخرج زكاة الفطر، إذ كان فينا النبي صلّى الله عليه وسلم صاعاً من طعام، أو صاعاً من شعير، أو صاعاً من تمر، أوصاعاً من زبيب، أوصاعاً من أقط»
Hadits Abu Sa’id al-Khudri: “Kami mengeluarkan zakat fitrah ketika Rasulullah Saw masih berada di tengah-tengah kami, satu sha’ makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ zabib (anggur yang dikeringkan), atau satu sha’ Aqith (susu yang dikeringkan)”.
(hadits ini dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud).

Menurut Mazhab Hanafi zakat fitrah boleh dibayarkan dalam bentuk uang:
دفع القيمة عندهم: يجوز عند الحنفية أن يعطي عن جميع ذلك القيمة دراهم أو دنانير أو فلوساً أو عروضاً أو ما شاء؛ لأن الواجب في الحقيقة إغناء الفقير، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «أغنوهم عن المسألة في مثل هذا اليوم» والإغناء يحصل بالقيمة، بل أتم وأوفر وأيسر؛ لأنها أقرب إلى دفع الحاجة، فيتبين أن النص معلل بالإغناء.
Membayar Zakat fitrah dalam bentuk uang menurut Mazhab Hanafi: boleh hukumnya mengeluarkan zakat fitrah dari semua jenis biji-bijian dan buah-buahan yang telah disebutkan diatas dalam bentuk Dirham, atau Dinar, atau uang, atau barang-barang, atau apa saja. Karena yang wajib sebenarnya adalah memberikan kecukupan kepada orang-orang fakir. Berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Cukupkanlah mereka dari meminta-meminta pada hari ini (‘Idul Fitri)”. Mencukupkan fakir miskin itu telah terwujud dengan memberikan nilai biji-bijian dan buah-buahan tersebut, bahkan lebih sempurna, lebih memenuhi kebutuhan dan lebih mudah, karena lebih mendekati kepada memenuhi kebutuhan mereka. Maka jelaslah bahwa kandungan nash tersebut adalah mencukupkan kebutuhan para fakir miskin.
(Sumber: al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, juz: 3, halaman: 393).

Baca Sajadah Shubuh Jum'at?

Hadits Tentang Baca Surat as-Sajadah Pada Shalat Shubuh Hari Jum’at.

Sumber: Shahih Muslim, Kitab: al-Jumu’ah (hari Jum’at), Bab: Ma Yuqra’u fi al-Jumu’ah (apa yang dibaca pada hari Jum’at), juz: 2, halaman: 599, no. 880. Penerbit: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Beirut.
Ditahqiq oleh: Syekh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi.
Diterjemahkan Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.

65 - ( 880 ) حدثني زهير بن حرب حدثنا وكيع عن سفيان عن سعد بن إبراهيم عن عبدالرحمن الأعرج عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم :
أنه كان يقرأ في الفجر يوم الجمعة الم تنزيل وهل أتى
65 (880) Zuhair bin Harb meriwayatkan kepada saya; Waki’ meriwayatkan kepada kami, dari Sufyan, dari Sa’ad bin Ibrahim, dari Abdurrahman al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw. Sesungguhnya Rasulullah Saw membaca pada shalat Shubuh hari Jum’at, surah Alif Lam Mim Tanzil (as-Sajadah) dan surah Hal Ata (al-Insan).

Sumber: Misykat al-Mashabih, karya Imam Muhammad bin Abdillah al-Khathib at-Tibrizi, Penerbit: al-Maktab al-Islamy, Beirut. Cetakan ketiga, tahun 1405H/1985M. Ditahqiq Oleh: Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

وعن أبي هريرة قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم يقرأ في الفجر يوم الجمعة ب ( الم تنزيل )
في الركعة الأولى وفي الثانية ( هل أتى على الإنسان )
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah Saw membaca pada shalat Shubuh hari Jum’at surah Alif Lam Tanzil (As-Sajadah) pada rakaat pertama dan pada rakaat kedua surah Hal Ata ‘Ala al-Insan.

Shalat Lihat Qur'an

Sumber: Fatawa Mu’ashirah - Kementerian Wakaf Mesir, juz: 1, hal: 6.
Mufti Syekh Ali Jum’ah
Diterjemahkan Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.
somadmorocco.blogspot.com
somadku@yahoo.com

الموضوع: المسك بالمصحف والقراءة منه أثناء الصلاة.
Judul: Memegang Mushaf al-Qur’an dan Membacanya Ketika Shalat
السؤال:
اطلعنا على الطلب الوارد إلينا عن طريق الإنترنت - المقيد برقم 1794 لسنة 2003 المتضمن :- لي سؤال يتلخص في هل هو صح أم خطأ قيام البعض بالمسك بالمصحف والقراءة منه أثناء الصلاة وهل لهذه القراءة من المصحف في الصلاة فضل أم ماذا ، وان كنت ألاحظ ذلك وافعله شخصيا في رمضان عندما أصلي القيام بالمسجد ونيتي في ذلك هو الانتهاء من ختم المصحف سريعا فهل هذا صحيح وان كان صحيحاً فهل يجوز أن امسك المصحف بيدي واقلب صفحاته أم أن يكون المصحف على حامل أمامي ؟
Pertanyaan:
Kami telah memperhatikan permohonan yang datang kepada kami lewat internet, tercatat no. 1794 tahun 2003, berisi: Saya ada pertanyaan, ringkasnya: apakah benar atau keliru jika seseorang memegang mushaf al-Qur’an dan membacanya ketika shalat. Apakah bacaan dari mushaf al-Qur’an tersebut memiliki keutamaan. Saya memperhatikan hal itu dan saya sendiri pun melakukannya pada bulan Ramadhan ketika saya melaksanakan shalat Qiyamullail di masjid, niat saya melakukan itu agar khatam al-Qur’an dengan cepat. Apakah itu benar? Jika benar, apakah saya boleh memegang mushaf al-Qur’an dengan tangan saya dan membolak-balik lembaran mushaf al-Qur’an? Atau mushaf al-Qur’an diletakkan diatas alat penopang di depan saya?
المفتى : فضيلة الاستاذ الدكتور/ علي جمعة.
الجواب:
يذهب كثير من الفقهاء إلى جواز القراءة من المصحف في صلاة النفل والفريضة ، واستدلوا بما رواه مالك من أن ذكوان مولى السيدة عائشة رضى الله عنها كان يقوم في رمضان من المصحف وأنه ليس هناك دليل على المنع.
وبالنسبة لتقليب أوراق المصحف فلا بأس فيه مع مراعاة أن يكون ذلك في أضيق نطاق حتى لا يخرج المصلي عن خشوعه المطلوب شرعاً في الصلاة وإن كان الأولى والأفضل أن يصلي بالناس الحافظ للقرآن وأن يستمع المأموم لقراءة الإمام حتى لا ينشغل أيا منهما عن الخشوع في الصلاة بتقليب أوراق المصحف وكثرة الحركات الخارجة عن الصلاة.
وبناءً على ما سبق وفي واقعة السؤال :- فقيام بعضهم بإمساك المصحف والقراءة منه أثناء الصلاة وتقليب أوراقه سواءً كان المصحف بيد المصلىِ أو على حامل صحيح شرعاً كما أنه ليس للقراءة من المصحف أثناء الصلاة فضل على قراءة المصلىِ من حفظه بل إن قراءة المصلىِ من حفظه أولى وأقرب إلى الخشوع.
والله سبحانه وتعالى أعلم.

Mufti: Prof. DR. Syekh Ali Jum’ah (Mufti Mesir).
Jawaban:
Sebagian besar ahli Fiqh memperbolehkan membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat, baik shalat sunnat ataupun shalat wajib. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik bahwa Dzakwan Mawla ‘Aisyah melaksanakan shalat Qiyamullail pada bulan Ramadhan dengan membaca dari mushaf al-Qur’an, dan tidak ada dalil yang melarangnya.
Adapun membalik lembaran al-Qur’an, maka itu dibolehkan, dengan tetap memperhatikan dan meminimalisir gerakan agar orang yang shalat tersebut tidak keluar dari khusyu’ yang mesti menurut syariat. Yang lebih utama sebenarnya agar yang memimpin shalat itu seorang yang hafizh, agar ma’mum dapat mendengarkan bacaan imam sehingga ma’mum dan imam tidak sibuk sehingga tidak khusyu’ dalam shalat dengan membolak-balik lembaran-lembaran mushaf al-Qur’an dan banyak membuat gerakan-gerakan di luar shalat.
Berdasarkan pertanyaan diatas, maka memegang mushaf dan membaca dari mushaf ketika shalat serta membolak-balik lembaran mushaf, apakah dengan tangan atau dengan alat, maka itu dibenarkan menurut syariat. Membaca dari mushaf tidak lebih utama daripada membaca dari hafalan, bahkan orang yang shalat membaca al-Qur’an dari hafalannya, itu lebih utama dan lebih mendekatkan diri kepada kekhusyu’an.
Wallahhu a’lam.

Rabu, 25 Agustus 2010

Kredit?

البيع بالأجل / البيع المؤجل
Jual Beli Dengan Jangka Waktu.
Diterjemahkan Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.
تاريخ الفتوى : 18 رجب 1426 الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:
فلقد أجاز مجمع الفقه الإسلامي البيع بالتقسيط في دورة مؤتمره السادس المنعقد في جدة 17شعبان 1410هـ الموافق 14مارس 1990م، وذلك في قراره رقم (53/2/6) بشأن البيع بالتقسيط وفيه: تجوز الزيادة في الثمن المؤجل عن الثمن الحال.... إلخ. انتهى .
Tanggal Fatwa: 18 Rajab 1426H
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah Saw, keluarga dan para shahabatnya. Amma ba’du:
Majma’ al-Fiqh al-Islamy (Lembaga Fiqh Islam) membolehkan jual beli dengan tempo (jangka waktu/kredit), pada konferensi yang keenam yang dilaksanakan di Jeddah pada tanggal 17 Sya’ban 1410H bertepatan dengan 14 Maret 1990M. Dalam keputusan no. 53/2/6 tentang jual beli dengan tempo (jangka waktu). Fatwa dalam masalah ini: boleh tambahan pada harga dengan tempo (jangka waktu) terhadap harga kontan … dan seterusnya. Selesai.
Sumber: Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah, juz: 170, halaman: 250.

س 74: السيارات التي تباع عن طريق التقسيط يزاد في سعرها إذا اشتريتها عن طريق التقسيط بحيث إذا كان سعر السيارة "15 " ألف ريال نقدا تباع على إنسان بأكثر من هذه القيمة عن طريق التقسيط. هل هذا البيع ربا ؟
ج: البيع بالتقسيط لا حرج فيه، إذا كانت الآجال معلومة والأقساط معلومة، ولو كان البيع بالتقسيط أكثر ثمنا من البيع نقدا؛ لأن البائع والمشتري كلاهما ينتفعان بالتقسيط. فالبائع ينتفع بالزيادة والمشتري ينتفع بالمهلة.
وقد ثبت في الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها: "أن بريرة رضي الله عنها باعها أهلها بالتقسيط تسع سنوات، لكل سنة أربعون درهما" ، فدل ذلك على جواز بيع التقسيط، ولأنه بيع لا غرر فيه ولا ربا ولا جهالة، فكان جائزا كسائر البيوع الشرعية إذا كان المبيع في ملك البائع وحوزته حين البيع.
Pertanyaan no. 74. Mobil-mobil yang dijual dengan cara kredit, jika saya beli maka harganya bertambah. Jika harga kontan 15 ribu Riyal, maka dijual dengan harga lebih dari itu ketika dijual dengan cara kredit. Apakah ini riba?
Jawaban:
Jual beli kredit itu tidak ada keberatan di dalamnya (boleh), jika waktu dan tambahannya diketahui, meskipun harga kredit lebih mahal daripada kontan. Karena penjual dan pembeli sama-sama mendapat manfaat. Penjual mendapat manfaat tambahan harga dan pembeli mendapat manfaat tempo (jangka waktu).
Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim bahwa Barirah dijual oleh tuannya dengan cara kredit selama sembilan tahun, satu tahunnya 40 Dirham. Ini menunjukkan bolehnya jual beli kredit. Karena tidak ada unsur gharar (tidak pasti) di dalamnya, juga tidak ada riba dan jahalah (tidak jelas). Maka boleh, sama seperti jual beli lainnya, jika barang yang dijual itu hak milik si penjual dan berada dalam kekuasaannya saat transaksi jual beli berlangsung.
(Sumber: Majmu’ Fatawa Bin Baz, juz: 17, halaman: 196).

Kajian Hadits Masjid Akramunnas UNRI.

Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.
Sabtu, 18 Ramadhan 1431H / 28 Agustus 2010

Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يُجَاوِرُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ، وَيَقُولُ « تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ » .
Dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah Saw melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Beliau bersabda, “Carilah Lailatulqadar pada sepuluh terakhir Ramadhan”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - زَوْجِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ .
Dari ‘Aisyah istri Rasulullah Saw, sesungguhnya Rasulullah Saw melaksanakan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau melaksankan I’tikaf setelah itu. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

وقال الزهري: «عجباً من الناس، كيف تركوا الاعتكاف، ورسول الله صلّى الله عليه وسلم كان يفعل الشيء ويتركه، وما ترك الاعتكاف حتى قبض» .
Imam az-Zuhri berkata, “Manusia itu aneh, mengapa mereka tidak melakukan I’tikaf, biasanya Rasulullah Saw melakukan sesuatu kemudian tidak melakukannya. Sedangkan I’tikaf, beliau tidak pernah meninggalkannya hingga beliau wafat”.
(Sumber: al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, juz: 3, halaman: 123).

Tempat I’tikaf:
والخلاصة: إن المالكية والشافعية يجيزون الاعتكاف في أي مسجد، والحنفية والحنابلة يشترطو ن كونه في المسجد الجامع، ولا يجوز عند الجمهور الاعتكاف في مسجد البيوت، ويجوز ذلك للمرأة عند الحنفية.
Kesimpulan: Mazhab Maliki dan Syafi’i membolehkan I’tikaf di setiap masjid.
Mazhab Hanafi dan Mazhab Hanbali mensyaratkan I’tikaf di Masjid Jami’.
Menurut jumhur ulama: tidak boleh I’tikaf di masjid bait (rumah).
Menurut Mazhab Hanafi: perempuan boleh I’tikaf di masjid bait (rumah).
(Sumber: al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, juz: 3, halaman: 128).

Lama Waktu I’tikaf:
I’tikaf sunnat tidak memiliki batasan waktu. I’tikaf terwujud dengan menetap di masjid dengan niat I’tikaf, apakah dalam waktu yang lama ataupun sebentar. Orang yang melakukannya tetap mendapatkan pahala selama ia berada di dalam masjid. Jika ia keluar, kemudian ia kembali, maka ia memperbaharui niat jika ia ingin berniat I’tikaf. Diriwayatkan dari Ya’la bin Umayyah, ia berkata, “Saya menetap di masjid sesaat untuk menetap, saya gunakan untuk I’tikaf”. ‘Atha’ berkata, “Seseorang itu beri’tikaf selama ia berada di masjid, jika ia duduk di masjid untuk mendapatkan kebaikan, maka berarti ia orang yang sedang beri’tikaf. Jika tidak untuk mendapatkan kebaikan, berarti tidak beri’tikaf.
(Sumber: Fiqh as-Sunnah, Syekh Sayyid Sabib, juz: 1, halaman: 475.

Keluar Masjid Karena Perlu:
الخروج للحاجة التي لا بد منها، قالت عائشة: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا اعتكف يدني إلي رأسه فأرجله، وكان لا يدخل البيت إلا لحاجة الانسان. رواه البخاري ومسلم وغيرهما.
وقال ابن المنذر: أجمع العلماء على أن للمعتكف أن يخرج من معتكفه للغائط والبول، لان هذا مما لا بد منه.
ولا يمكن فعله في المسجد، وفي معناه الحاجة إلى المأكول والمشروب إذا لم يكن له من يأتيه به فله الخروج إليه، وإن بغته القئ فله أن يخرج ليقئ خارج المسجد، وكل ما لا بد منه ولا يمكن فعله في المسجد فله خروجه إليه، ولا يفسد اعتكافه ما لم يطل. انتهى.
ومثل هذا الخروج للغسل من الجنابة وتطهير البدن والثوب من النجاسة.
Keluar masjid karena suatu kebutuhan. Aisyah berkata, “Ketika Rasulullah Saw I’tikaf, tangan saya ke kepala beliau, saya menyisirnya. Beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena kebutuhan. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Muslim dan imam lain.
Ibnu al-Mundzir berkata, “Para ulama telah Ijma’ bahwa orang yang I’tikaf boleh keluar dari tempat I’tikafnya untuk buang air besar dan kecil, karena ini suatu kebutuhan, tidak mungkin dilakukan di dalam masjid. Semakna dengan itu juga adalah makan dan minum, jika tidak ada orang lain yang mengantarkannya, maka orang yang I’tikaf boleh keluar dari masjid. Jika ia ingin muntah, maka ia juga boleh keluar untuk muntah di luar masjid. Semua perkara yang mesti dilakukan dan tidak mungkin dilakukan di dalam masjid, maka orang yang I’tikaf boleh keluar dari dalam masjid, I’tikafnya tidak batal, selama tidak terlalu lama, selesai.
Sama juga seperti ini, keluar dari dalam masjid ntuk mandi wajib, membersihkan badan dan pakaian dari najis.
(Sumber: Fiqh as-Sunnah, Syekh Sayyid Sabiq, juz: 1, halaman: 481-482).

Tujuan I’tikaf:
Kesucian hati dengan terus menerus merasakan pengawasan Allah Swt dan menyambut kemuliaan-Nya. Mengkonsentrasikan diri hanya untuk beribadah kepada Allah Swt dan melepaskan dari semua aktifitas, hanya untuk beribadah kepada Allah Swt. Melepaskan diri dari kesibukan dan aktifitas duniawi. Menyerahkan diri kepada Allah Swt dengan menyerahkan semua perkara kepada-Nya, bersandar hanya pada kemuliaan-Nya dan berhenti di depan pintu keagungan-Nya. Terus beribadah kepada-Nya di rumah-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya agar lebih dekat kepada rahmat-Nya. Menjaga diri dengan pemeliharaan-Nya. I’tikaf adalah amal yang paling mulia dan paling dicintai Allah Swt jika didasari keikhlasan hanya kepada-Nya. Karena orang yang melaksanakan I’tikaf itu menantikan waktu-waktu pelaksanaan shalat, maka seakan-akan ia seperti orang yang sedang melaksanakan shalat secara terus menerus. Ia dalam keondisi spritual yang sangat dekat dengan Allah Swt.
Jika ia dalam keadaan berpuasa, maka itu semakin membuatnya merasa semakin dekat dengan Allah Swt, karena limpahan kesucian hati dan ketulusan jiwa yang dirasakan orang-orang yang berpuasa. I’tikaf lebih utama (afdhal) dilakukan pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan untuk mencari Lailatulqadar yang lebih baik daripada seribu bulan.
(Disunting dari: al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, juz: 3, halaman: 124).

Hari Raya Pada Hari Jum’at?

Diterjemahkan Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.
somadku@yahoo.com
somadmorocco.blogspot.com
Fiqh as-Sunnah, Syekh Sayyid Sabiq, juz: 1, halaman: 316.

اجتماع الجمعة والعيد في يوم واحد
إذا اجتمع الجمعة والعيد في يوم واحد سقطت الجمعة عمن صلى العيد، فعن زيد بن أرقم قال: صلى النبي صلى الله عليه وسلم ثم رخص في الجمعة فقال: (من شاء أن يصلي فليصل) رواه الخمسة وصححه ابن خزيمة والحاكم.
وعن أبي هريرة أنه صلى الله عليه وسلم قال: (قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مجمعون) رواه أبو داود.
ويستحب للامام أن يقيم الجمعة ليشهدها من شاء شهودها، ومن لم يشهد العيد لقوله صلى الله عليه وسلم: (وإنا مجمعون).
وتجب صلاة الظهر على من تخلف عن الجمعة لحضوره العيد عند الحنابلة.
والظاهر عدم الوجوب، لما رواه أبو داود عن ابن الزبير أنه قال: عيدان اجتمعا في يوم واحد، فجمعهما فصلاهما ركعتين بكرة، لم يزد عليهما حتى صلى العصر.

Hari raya bertepatan jatuh pada hari Jum’at
Jika hari Jum’at dan hari raya bertepatan jatuh pada hari yang sama, maka kewajiban melaksanakan shalat Jum’at gugur dari orang yang telah melaksanakan shalat ‘Ied. Dari Zaid bin Arqam, ia berkata, “Rasulullah Saw melaksanakan shalat (‘Ied), kemudian beliau memberikan keringanan untuk melaksanakan shalat Jum’at. Beliau berkata, “Siapa yang mau melaksanakan shalat Jum’at, maka hendaklah ia melaksanakannya”. Diriwayatkan oleh imam yang lima, dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Dua hari raya ini telah berkumpul pada hari kamu. Siapa yang mau, maka shalat Jum’at sudah mencukupi baginya dan kita telah menggabungkannya”. (HR. Abu Daud).
Imam dianjurkan untuk melaksanakan shalat Jum’at agar mereka yang ingin melaksanakan shalat Jum’at dapat melaksanakannya dan bagi mereka yang tidak melaksanakan shalat ‘Ied. Berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Dan kami telah berkumpul (pada shalat ‘Ied)”.
Wajib melaksanakan shalat Zhuhur bagi orang yang tidak melaksanakan shalat Jum’at karena ia telah melaksanakan shalat ‘Ied, demikian menurut Mazhab Hanbali.
Menurut pendapat yang kuat: tidak wajib, berdasarkan riwayat Abu Daud dari Ibnu az-Zubair, ia berkata: “Dua hari raya (‘Ied dan hari Jum’at) bergabung dalam satu hari. Menggabungkannya, beliau melaksanakan shalat dua rakaat pada waktu pagi (shalat ‘Ied), beliau tidak menambah shalat lagi hingga beliau melaksanakan shalat ‘Ashar.



Dikutip Dari Silsilah Liqa’at al-Bab al-Maftuh, Syekh ‘Utsaimin.
حكم صلاة الجمعة إذا وافقت يوم عيد:
___________________________________
السؤال: إذا وافق يوم الجمعة يوم عيد هل يصلى العيد بنية الجمعة؛ ليسقط عنه الظهر والجمعة؟
___________________________________
الجواب: الصحيح أن من يدرك العيد مع الإمام فإنه يرخص له في الجمعة إن شاء حضر وإن شاء لم يحضر، ولكن إذا لم يحضر يجب أن يصلي ظهراً؛ لأنه إذا سقطت الجمعة فلها بدل وهو الظهر، وهذا بالنسبة للمأمومين، أما الإمام فيلزمه أن يقيم الجمعة، ولا تجزئ صلاة العيد عنها؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقيم العيد والجمعة إذا كانا في يوم واحد.

Hukum Shalat Jum’at Jika Bertepatan Dengan Hari Raya.

Pertanyaan:
Jika hari Jum’at bertepatan dengan hari raya, apakah melaksanakan shalat ‘Ied dengan niat shalat Jum’at untuk menggugurkan kewajiban shalat Zhuhur dan shalat Jum’at?

Jawaban:
Menurut pendapat yang shahih, bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘Ied bersama imam, maka ia diberi keringanan, jika ia mau maka ia boleh datang melaksanakan shalat Jum’at dan jika ia tidak mau maka ia boleh tidak shalat Jum’at. Akan tetapi jika ia tidak datang melaksanakan shalat Jum’at, ia tetap wajib melaksanakan shalat Zhuhur. Karena jika kewajiban melaksanakan shalat Jum’at gugur, maka gantinya adalah shalat Zhuhur. Ini bagi ma’mum. Sedangkan imam, ia mesti melaksanakan shalat Jum’at, tidak cukup hanya melaksanakan ‘Ied saja, karena Rasulullah Saw melaksanakan shalat ‘Ied dan shalat Jum’at jika hari raya bertepatan jatuh pada hari Jum’at.