Rabu, 14 April 2010

Shalat Dua Rakaat Sebelum Maghrib.

Shalat Dua Rakaat Sebelum Maghrib

Mufti : Syekh ‘Athiyyah Shaqar (Ketua Majlis Fatwa Al-Azhar Mesir).

Dasar : Al-Qur’an dan Sunnah.

Pertanyaan : Adakah dua rakaat shalat sunnat Qabliyah maghrib?

Jawaban :

Ada beberapa hadits yang bersifat umum yang mengandung makna bahwa shalat sunnat dua rakaat Qabliyah Maghrib itu disyariatkan, juga ada beberapa hadits yang bersifat khusus yang menyatakan bahwa shalat sunnat dua rakaat Qabliyah Maghrib itu disyariatkan.

Diantara hadits-hadits yang bersifat umum tersebut adalah:

- Hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim, “Diantara adzan dan iqamat itu ada shalat (Qabliyah), bagi yang mau melaksanakannya”.

- Hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, “Setiap shalat fardhu itu didahului shalat (Qabliyah) dua rakaat”.

Diantara hadits-hadits yang bersifat khusus:

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim bahwa para shahabat nabi melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib sebelum Rasulullah SAW keluar rumah menemui mereka. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud, Anas berkata, “Rasulullah SAW melihat kami, beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami”. ‘Uqbah berkata, “Kami melaksanakannya pada masa Rasulullah SAW”, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Ahmad dan Abu Daud, “Shalatlah kamu dua rakaat sebelum Maghrib, bagi yang mau melaksanakannya”.

Dari beberapa dalil diatas dapat disimpulkan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu disyariatkan berdasarkan ucapan dan Iqrar (ketetapan) Rasulullah SAW. Bahwa Rasulullah SAW tidak melaksanakannya, itu tidak menafikan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan untuk dilaksanakannya. Shalat dua rakaat sebelum Maghrib disyariatkan berdasarkan perbuatan Rasulullah SAW, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban.

Sebagian ulama ahli Fiqh tidak menganggap shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan, berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Umar bahwa beliau tidak pernah melihat ada shahabat nabi yang melaksanakannya. Akan tetapi riwayat yang menetapkan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu ada adalah riwayat Anas. Riwayat Anas ini lebih didahulukan daripada riwayat Ibnu Umar yang menafikannya. Disamping itu terdapat beberapa hadits lain sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Tidak ada hadits yang menghapuskan hukumnya, oleh sebab itu tetap dijadikan dasar hukum pelaksanaannya. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu menyebabkan terlambat melaksanakan shalat Maghrib, pendapat ini ditolak, karena Rasulullah SAW memerintahkan agar melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib, juga berdasarkan iqrar (ketetapan) Rasulullah SAW. Lagi pula waktu untuk melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu singkat, tidak menyebabkan pelaksanaan shalat Maghrib tertunda dari awal waktunya. (Nail al-Authar, Imam Asy-Syaukani, juz. 2, hal. 8).

Disebutkan dalam kitab Al-Mawahib Al-Ladunniyyah karya Imam Al-Qasthallani, juz. 2, hal. 272-273. Shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan menurut Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan para ulama ahli hadits. Diriwayatkan dari Khulafa’ Rasyidin yang empat dan dari sekelompok shahabat nabi bahwa mereka tidak melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib, yang meriwayatkan riwayat ini adalah Muhammad bin Nashr dan lainnya dari jalur riwayat Ibrahim An-Nakha’i dari mereka, riwayat ini terputus, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Az-Zarqani pensyarah kitab Al-Mawahib. Sebagian ulama Mazhab Maliki menyatakan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib telah mansukh, akan tetapi pendapat ini ditolak karena pendapat yang menyatakan mansukh tidak berdasarkan dalil.

Dari Sa’id bin Al-Musayyib, ia berkata, “Merupakan kebenaran bagi setiap mukmin, apabila mu’azin telah mengumandangkan adzan, maka melaksanakan shalat dua rakaat. Imam Al-Qasthallani menyambung pendapat Sa’id bin Al-Musayyib, “Diriwayatkan pendapat lain dari Imam Malik bahwa beliau menyatakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan untuk dilaksanakan. Menurut pendapat dari kalangan ulama Mazhab Syafi’i ada satu pendapat yang dikuatkan oleh Imam Nawawi dan ulama yang mengikutinya. Imam Nawawi berkata dalam kitab Syarh Muslim, “Semua dalil menunjukkan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan”. Al-Muhibb Ath-Thabari berkata, “Tidak ada dalil yang menafikan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan, karena tidak mungkin Rasulullah SAW memerintahkan sesuatu yang tidak dianjurkan. Bahkan hadits ini adalah dalil pertama yang menyatakan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu sunnat untuk dilaksanakan”.

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas, “Kami di Madinah, apabila mu’adzin mengumandangkan adzan shalat Maghrib, maka kaum muslimin segera mendekat ke tiang masjid, mereka melaksanakan shalat dua rakaat, hingga ada seorang musafir yang memasuki masjid, ia menyangka bahwa shalat Maghrib telah dilaksanakan, karena banyaknya kaum muslimin yang melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu”.

Akhirnya, saya mengharapkan kepada kaum muslimin agar tidak mengobarkan fitnah disebabkan fanatisme terhadap masalah-masalah khilafiyah yang bersifat furu’. Siapa yang mau melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib, silahkan untuk melaksanakannya, dan bagi mereka yang tidak mau melaksanakannya saya harap jangan terlalu tergesa-gesa menghukum terhadap sesuatu sebelum mengkajinya secara mendalam dan mengetahui pendapat para ulama tentang masalah tersebut. Agar seruan yang diserukan itu berdasarkan hikmah dan suri tauladan yang baik.

Diterjemahkan Oleh:

H. Abdul Somad, Lc., MA.



Teks Asli:

ركعتان قبل المغرب

المفتي : الشيخ عطية صقر . مايو 1997

المبادئ : القرآن والسنة

السؤال : هل هناك ركعتان سنة قبلية لصلاة المغرب ؟

الجواب :

هناك أحاديث عامة يؤخذ من عمومها مشروعية صلاة ركعتين قبل المغرب ، وهناك أحاديث خاصة بمشروعيتها .

فمن الأحاديث العامة:

- ما رواه البخارى ومسلم: بين كل أذانين - الأذان والإقامة - صلاة لمن شاء.

- وما رواه ابن حبان فى صحيحه: ما من صلاة مفروضة إلا وببن يديها ركعتان.

ومن الأحاديث الخاصة:

ما رواه البخارى ومسلم أن الصحابة كانوا يصلون ركعتين قبل المغرب قبل أن يخرج إليهم النبى صلى الله عليه وسلم. وفى رواية لمسلم وأبى داود، وقال أنس رآنا رسول اللّه صلى الله عليه وسلم فلم يأمرنا ولم ينهنا، وقال عقبة: كنا نفعل على عهد رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم كما رواه البخارى ومسلم، وجاء حديث البخارى وأحمد وأبى داود: صلوا ركعتين قبل المغرب لمن شاء.

يؤخذ من هذا أن مشروعية صلاة ركعتين قبل المغرب ثابتة بقول النبى صلى الله عليه وسلم وبإقراره، وكون الرسول لم يصلها لا ينفى الاستحباب، كما أن مشروعيتها ثابتة بفعله أيضا كما رواه ابن حبان .

وبعض الفقهاء لم يستحبها بناء على ما روى عن عبد اللَّه بن عمر رضى اللَّه عنهما أنه لم ير أحدا من أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم يصليهما. لكن رواية المثبت، وهو أنس ، تقدم على رواية النافى وهو ابن عمر ذلك إلى جانب أن الأحاديث السابقة لم يرد ما ينسخها، فتبقى محكمة. وما يقال من أن صلاتهما تؤدى إلى تأخير صلاة المغرب قول مردود بأمر النبى بهما وبإقراره لهما ، وبأن زمنهما يسير لا تتأخر به الصلاة عن أول وقتها. (نيل الأوطار للشوكانى ج 2 ص 8).

وجاء فى المواهب اللدنية القسطلانى (ج 2 ص 272 ، 273 ) أنهما مستحبتان عند الإمام أحمد وإسحاق بن راهويه وأصحاب الحديث، وعن الخلفاء الأربعة وجماعة من الصحابة أنهم كانوا لا يصلونها، رواه عنهم محمد بن نصر وغيره من طريق إبراهيم النخعى عنهم ، وهو منقطع كما قال الزرقانى شارح المواهب، فادعى بعض المالكية نسخهما، وتُعُقِّب بأن دعوى النسخ لا دليل عليها .

وعن سعيد بن المسيب أنه كان يقول : حق على كل مؤمن إذا أذن المؤذن أن يركع ركعتين . ويتابع القسطلانى كلامه فيقول: وعن مالك قول أخر باستحبابهما، وهو عند الشافعية وجه رجحه النووي ومن اتبعه، وقال فى شرح مسلم: مجموع الأدلة يرشد إلى استحباب تخفيفهما، وقال المحب الطبري: لم يرد نفى استحبابهما لأنه لا يمكن أن يأمر بما لا يستحب، بل هذا الحديث من أول الأدلة على استحبابهما .

وروى مسلم عن أنس: كنا بالمدينة إذا أذن المؤذن لصلاة المغرب ابتدروا السوارى فركعوا ركعتين، حتى إن الرجل الغريب ليدخل المسجد فيحسب أن الصلاة قد صليت، من كثرة من يصليهما.

وبعد، فأرجو من المسلمين ألا يثيروا فتنة بسبب التعصب لمسائل فرعية خلافية. فمن شاء صلاهما ومن شاء لم يصلهما كما أرجو ألا يبادروا بالحكم على الأشياء قبل دراستها والتثبت منها ومعرفة آراء العلماء فيها، وأن تكون دعوتهم إلى ما يريدون دعوة قائمة على الحكمة والموعظة الحسنة.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar