وننبهك إلى أن الفقهاء اتفقوا على أن العمل الكثير يبطل الصلاة، واختلفوا في تحديد الكثرة، ولم يصح حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم بأن ثلاث حركات تبطل الصلاة، وإنما هو تحديد من بعض الفقهاء.
وعليه فلا يصح الإنكار على من حرك أصبعه في الصلاة،
Kami ingatkan kepada Anda bahwa para ahli Fiqh sepakat bahwa perbuatan banyak membatalkan shalat. Mereka berbeda pendapat tentang batasan banyak. Tidak shahih hadits dari Rasulullah Saw bahwa tiga gerakan membatalkan shalat. Batasan itu dari sebagian ahli fiqh. Oleh sebab itu tidak dibenarkan mengingkari orang yang menggerakkan jarinya dalam shalat.
فقد ذهب إلى ذلك أئمة ومنهم المالكية رحمهم الله فإنهم يرون تحريك الأصبع في التشهد كله ويكون تحريكها يمينا وشمالا لا فوق وتحت،
والحنابلة يرون الإشارة بها عند ذكر لفظ الجلالة (الله) والحنفية يرون أنه يشار بها عند قول (لا إله) وضمها عند قول (إلا الله)
والشافعية يرون الإشارة بها عند قول (إلا الله) إلى بقية التشهد دون تحريك
Menurut Mazhab Maliki: menggerakkan jari telunjuk dari awal hingga akhir tasyahhud. Digerakkan ke kanan dan ke kiri, bukan ke atas dan ke bawah.
Menurut Mazhab Hanbali: mengangkat telunjuk ketika pada lafaz Allah (إلا الله).
Menurut Mazhab Hanafi: mengangkat telunjuk pada lafaz: La Ilaha (لا إله). Kemudian kembali menurunkan telunjuk pada lafaz: Illa Allah (إلا الله).
Menurut Mazhab Syafi’I: mengangkat telunjuk pada lafaz: Illallah (إلا الله), hingga akhir Tasyahhud berakhir, tanpa menggerakkan telunjuk.
لما رواه أحمد والنسائي وأبو داود وغيرهم عن وائل بن حجر رضي الله عنه، أنه قال في صفة صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم: ثم قعد فافترش رجله اليسرى ووضع كفه اليسرى على فخذه وركبته اليسرى، وجعل حد مرفقه الأيمن على فخذه اليمنى، ثم قبض ثنتين من أصابعه وحلق حلقة ثم رفع إصبعه فرأيته يحركها يدعو بها.
Berdasarkan riwayat Imam Ahmad, an-Nasa’i, Abu Daud dan lainnya, dari Wa’il bin Hajar, ia berkata tentang sifat shalat nabi: “Kemudian Rasulullah Saw duduk iftirasy; menduduki kaki kiri, meletakkan telapak tangan kiri diatas paha dan lutut kiri. Meletakkan siku kanan diatas paha kanan. Kemudian menggenggam kedua jari tangannya dan membuat lingkaran, kemudian mengangkat salah satu jemarinya, saya melihatnya menggerakkannya sambil berdoa.
قال الإمام البيهقي رحمه الله: يحتمل أن يكون مراده بالتحريك الإشارة بها لا تكرار تحريكها، حتى لا يعارض حديث ابن الزبير عند أحمد وأبي داود والنسائي وابن حبان في صحيحه بلفظ: "كان يشير بالسبابة ولا يحركها، ولا يجاوز بصره إشارته". قال الحافظ في التلخيص الحبير: وهذا الحديث أصله في مسلم دون قوله: ولا يجاوز بصره إشارته.
Imam al-Baihaqi berkata: “Ada kemungkinan mengandung makna bahwa yang dimaksud dengan kalimat ‘menggerakkan’, maksudnya adalah menunjuk, bukan menggerakkannya berkali-kali, agar tidak bertentangan dengan hadits riwayat Ibnu az-Zubair dalam riwayat ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i dan Ibnu Hibban dengan lafaz: “Rasulullah Saw menunjuk dengan jari telunjuk, tidak menggerakkannya. Pandangan matanya tidak melewati telunjuknya”.
Al-Hafizh berkata dalam at-Talkhish al-Habir: “Asal hadits ini dalam Shahih Muslim, tanpa kalimat: “Pandangan matanya tidak melewati telunjuknya”.
والحاصل أن المسألة من مسائل الخلاف بين أهل العلم، ولكل رأيه، ولا ينبغي للمسلم أن يضيق صدره ذرعا بالخلاف فيها، فإن اتفاق العلماء حجة قاطعة واختلافهم رحمة واسعة.
والله أعلم.
Kesimpulannya, masalah ini adalah masalah khilafiyah diantara para ulama, setiap ulama punya pendapat masing-masing, tidak selayaknya seorang muslim merasa bersempit dada terhadap ikhtilaf dalam masalah ini. Karena kesepakatan ulama itu hujjah yang kuat, sedangkan ikhtilaf ulama itu rahmat yang luas. Wallahu a’lam.
diterjemahkan dari islamweb.com
Rabu, 29 Februari 2012
Jumat, 10 Februari 2012
Surat Adh-Dhuha.
Firman Allah Swt:
وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2)
“Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)”.
(Qs. Adh-Dhuha [93]: 2).
Surat adh-Dhuha ini termasuk kategori surat-surat Makkiyyah, surat-surat yang turun sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah.
Dalam ayat pertama ini Allah Swt tidak hanya sekedar menyebut tentang waktu, namun lebih kuat daripada itu, Allah Swt bersumpah demi waktu, menunjukkan betapa pentingnya waktu bagi seorang muslim. Ayat ini satu diantara enam waktu yang dijadikan Allah Swt sebagai objek sumpah dalam al-Qur’an menurut urutan waktunya:
Allah bersumpah demi waktu fajar:
وَالْفَجْرِ (1)
“”. (Qs. Al-Fajr [89]: 1).
Allah bersumpah demi waktu shubuh:
وَالصُّبْحِ إِذَا أَسْفَرَ
“Dan subuh apabila mulai terang”. (Qs. Al-Muddatstsir [74]: 34).
Allah bersumpah demi waktu Dhuha:
وَالضُّحَى (1)
“Demi waktu matahari sepenggalahan naik”. (Qs. Adh-Dhuha [93]: 2).
Allah bersumpah demi waktu siang:
وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى (2)
“Dan siang apabila terang benderang”. (Qs. Al-Lail [92]: 2).
Allah bersumpah demi waktu petang:
وَالْعَصْرِ (1)
“Demi waktu ‘Ashr (petang)”. (Qs. Al-‘Ashr: 1).
Allah bersumpah demi waktu malam:
“Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)”. (Qs. Adh-Dhuha [93]: 2).
Bahkan dari sekian banyak nikmat yang diberikan Allah Swt, maka waktu adalah nikmat pertama yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt, sesuai hadits riwayat Ibnu Mas’ud:
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
Dari Ibnu Mas’ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
“Kaki anak Adam akan tetap tegak berdiri di sisi Tuhannya pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang lima pertanyaan; tentang umurnya, kemana ia habiskan?”. (HR. At-Tirmidzi).
Umur adalah waktu yang diamanahkan Allah Swt kepada seorang hamba. Akan tetapi banyak manusia yang tertipu oleh waktu, oleh sebab itu Rasulullah Saw nyatakan:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat, banyak manusia tertipu dalam dua nikmat itu; nikmat sehat dan nikmat waktu luang”. (HR. Al-Bukhari).
Firman Allah Swt:
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3)
“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu”. (Qs. Adh-Dhuha : 3).
Imam Jalaluddin as-Suyuthi menyebutkan, “Ketika wahyu terlambat turun selama 15 hari, maka orang-orang kafir mengejek Rasulullah Saw:
إن ربه ودَّعه وقلاه
“Sesungguhnya Tuhannya telah meninggalkannya dan benci kepadanya”. Maka Allah Swt menurunkan ayat ini untuk membantah pernyataan orang-orang kafir Quraisy Mekah. Nyatalah bahwa al-Qur’an itu datang dari sisi Allah, bukan seperti yang dituduhkan orang-orang kafir bahwa al-Qur’an itu ciptaan Rasulullah Saw.
Firman Allah Swt:
وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى (4)
“Dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”. (Qs. Adh-Dhuha : 4).
Manusia berada diantara dua pilihan; dunia dan akhirat. Banyak manusia yang tertipu, maka ayat ini menegaskan pilihan terbaik diantara dua pilihan. Akan tetapi orang beriman tidak diperintahkan untuk meninggalkan dunia untuk mencari akhirat, karena Allah Swt menyatakan:
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. (Qs. Al-Qashash [28]: 77). Mu’min yang baik bukanlah yang meninggalkan dunia untuk akhirat, bukan pula sebaliknya. Akan tetapi yang menjadikan dunia sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat.
Firman Allah Swt:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى (5)
“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Qs. Adh-Dhuha: 5). Begitulah janji Allah Swt kepada Rasul-Nya. Allah Swt berikan karunia duniawi dengan berhasilnya menguasai jazirah Arab dan Allah berikan karunia akhirat dengan diangkatnya Rasulullah Saw sebagai pemberi syafaat. Akan tetapi puncak kepuasan Rasulullah Saw adalah:
إذن لا أرضى وواحد من أمتي في النار
“Aku tidak puas jika ada satu orang dari umatku yang masuk ke dalam neraka”. Begitulah cinta dan sayangnya Rasulullah Saw kepada umatnya. Karunia dunia dan akhirat tidak membuatnya merasa puas, sebelumnya umatnya selamat dari azab neraka.
Firman Allah Swt:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآَوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8) فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11)
6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?
7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung[1583], lalu Dia memberikan petunjuk.
8. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
9. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang.
10. Dan terhadap orang yang, janganlah kamu menghardiknya.
11. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.
[1582] Maksudnya ialah bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. ada pula sebagian ahli tafsir yang mengartikan akhirat dengan kehidupan akhirat beserta segala kesenangannya dan ula dengan arti kehidupan dunia.
[1583] Yang dimaksud dengan bingung di sini ialah kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad s.a.w. sebagai jalan untuk memimpin ummat menuju keselamatan dunia dan akhirat.
(Qs. Adh-Dhuha [93]: 2).
Enam ayat diatas saling terkait antara satu sama lain. Ayat 6 terkait dengan ayat 9. Ayat 7 terkait dengan ayat 10. Dan Ayat 8 terkait dengan ayat 11.
Ayat 6 terkait dengan ayat 9: “Bukankah engkau dahulu seorang yatim, lalu Allah melindungimu? Maka kepada anak yatim, jangan sewenang-wenang!”.
Ayat 7 terkait dengan ayat 10: “Bukankah engkau dahulu bingung karena keterbatasan akal? Lalu Allah memberikan wahyu kepadamu. Maka orang yang bertanya kepadamu tentang hidayah, jangan engkau menghardiknya!”.
Ayat 8 terkait dengan ayat 11: “Bukankah engkau dahulu dalam keadaan kekurangan, lalu Allah memberikan kecukupan? Maka nikmat Tuhanmu itu mesti engkau siarkan”.
Begitulah cara Allah Swt mendidik manusia, ia disadarkan tentang hakikat dirinya, lalu kemudian diajarkan apa yang mesti ia lakukan. Kepedulian kepada sesama, berbagi materi dan non-materi dalam bentuk nasihat dan jalan menuju hidayah. Semoga kita dapat meneladani Rasulullah Saw, amin ya Robbal’alamin.
وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2)
“Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)”.
(Qs. Adh-Dhuha [93]: 2).
Surat adh-Dhuha ini termasuk kategori surat-surat Makkiyyah, surat-surat yang turun sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah.
Dalam ayat pertama ini Allah Swt tidak hanya sekedar menyebut tentang waktu, namun lebih kuat daripada itu, Allah Swt bersumpah demi waktu, menunjukkan betapa pentingnya waktu bagi seorang muslim. Ayat ini satu diantara enam waktu yang dijadikan Allah Swt sebagai objek sumpah dalam al-Qur’an menurut urutan waktunya:
Allah bersumpah demi waktu fajar:
وَالْفَجْرِ (1)
“”. (Qs. Al-Fajr [89]: 1).
Allah bersumpah demi waktu shubuh:
وَالصُّبْحِ إِذَا أَسْفَرَ
“Dan subuh apabila mulai terang”. (Qs. Al-Muddatstsir [74]: 34).
Allah bersumpah demi waktu Dhuha:
وَالضُّحَى (1)
“Demi waktu matahari sepenggalahan naik”. (Qs. Adh-Dhuha [93]: 2).
Allah bersumpah demi waktu siang:
وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى (2)
“Dan siang apabila terang benderang”. (Qs. Al-Lail [92]: 2).
Allah bersumpah demi waktu petang:
وَالْعَصْرِ (1)
“Demi waktu ‘Ashr (petang)”. (Qs. Al-‘Ashr: 1).
Allah bersumpah demi waktu malam:
“Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)”. (Qs. Adh-Dhuha [93]: 2).
Bahkan dari sekian banyak nikmat yang diberikan Allah Swt, maka waktu adalah nikmat pertama yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt, sesuai hadits riwayat Ibnu Mas’ud:
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
Dari Ibnu Mas’ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
“Kaki anak Adam akan tetap tegak berdiri di sisi Tuhannya pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang lima pertanyaan; tentang umurnya, kemana ia habiskan?”. (HR. At-Tirmidzi).
Umur adalah waktu yang diamanahkan Allah Swt kepada seorang hamba. Akan tetapi banyak manusia yang tertipu oleh waktu, oleh sebab itu Rasulullah Saw nyatakan:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat, banyak manusia tertipu dalam dua nikmat itu; nikmat sehat dan nikmat waktu luang”. (HR. Al-Bukhari).
Firman Allah Swt:
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3)
“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu”. (Qs. Adh-Dhuha : 3).
Imam Jalaluddin as-Suyuthi menyebutkan, “Ketika wahyu terlambat turun selama 15 hari, maka orang-orang kafir mengejek Rasulullah Saw:
إن ربه ودَّعه وقلاه
“Sesungguhnya Tuhannya telah meninggalkannya dan benci kepadanya”. Maka Allah Swt menurunkan ayat ini untuk membantah pernyataan orang-orang kafir Quraisy Mekah. Nyatalah bahwa al-Qur’an itu datang dari sisi Allah, bukan seperti yang dituduhkan orang-orang kafir bahwa al-Qur’an itu ciptaan Rasulullah Saw.
Firman Allah Swt:
وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى (4)
“Dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”. (Qs. Adh-Dhuha : 4).
Manusia berada diantara dua pilihan; dunia dan akhirat. Banyak manusia yang tertipu, maka ayat ini menegaskan pilihan terbaik diantara dua pilihan. Akan tetapi orang beriman tidak diperintahkan untuk meninggalkan dunia untuk mencari akhirat, karena Allah Swt menyatakan:
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. (Qs. Al-Qashash [28]: 77). Mu’min yang baik bukanlah yang meninggalkan dunia untuk akhirat, bukan pula sebaliknya. Akan tetapi yang menjadikan dunia sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat.
Firman Allah Swt:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى (5)
“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Qs. Adh-Dhuha: 5). Begitulah janji Allah Swt kepada Rasul-Nya. Allah Swt berikan karunia duniawi dengan berhasilnya menguasai jazirah Arab dan Allah berikan karunia akhirat dengan diangkatnya Rasulullah Saw sebagai pemberi syafaat. Akan tetapi puncak kepuasan Rasulullah Saw adalah:
إذن لا أرضى وواحد من أمتي في النار
“Aku tidak puas jika ada satu orang dari umatku yang masuk ke dalam neraka”. Begitulah cinta dan sayangnya Rasulullah Saw kepada umatnya. Karunia dunia dan akhirat tidak membuatnya merasa puas, sebelumnya umatnya selamat dari azab neraka.
Firman Allah Swt:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآَوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8) فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11)
6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?
7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung[1583], lalu Dia memberikan petunjuk.
8. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
9. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang.
10. Dan terhadap orang yang, janganlah kamu menghardiknya.
11. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.
[1582] Maksudnya ialah bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. ada pula sebagian ahli tafsir yang mengartikan akhirat dengan kehidupan akhirat beserta segala kesenangannya dan ula dengan arti kehidupan dunia.
[1583] Yang dimaksud dengan bingung di sini ialah kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad s.a.w. sebagai jalan untuk memimpin ummat menuju keselamatan dunia dan akhirat.
(Qs. Adh-Dhuha [93]: 2).
Enam ayat diatas saling terkait antara satu sama lain. Ayat 6 terkait dengan ayat 9. Ayat 7 terkait dengan ayat 10. Dan Ayat 8 terkait dengan ayat 11.
Ayat 6 terkait dengan ayat 9: “Bukankah engkau dahulu seorang yatim, lalu Allah melindungimu? Maka kepada anak yatim, jangan sewenang-wenang!”.
Ayat 7 terkait dengan ayat 10: “Bukankah engkau dahulu bingung karena keterbatasan akal? Lalu Allah memberikan wahyu kepadamu. Maka orang yang bertanya kepadamu tentang hidayah, jangan engkau menghardiknya!”.
Ayat 8 terkait dengan ayat 11: “Bukankah engkau dahulu dalam keadaan kekurangan, lalu Allah memberikan kecukupan? Maka nikmat Tuhanmu itu mesti engkau siarkan”.
Begitulah cara Allah Swt mendidik manusia, ia disadarkan tentang hakikat dirinya, lalu kemudian diajarkan apa yang mesti ia lakukan. Kepedulian kepada sesama, berbagi materi dan non-materi dalam bentuk nasihat dan jalan menuju hidayah. Semoga kita dapat meneladani Rasulullah Saw, amin ya Robbal’alamin.
Rabu, 01 Februari 2012
Rasulullah Saw : Rahmat Bagi Semesta Alam.
Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.
Pengantar.
Ketika Islam dihujat sebagai agama ekslusif, rasis bahkan fasis, maka respon kaum muslimin pun beraneka ragam. Meskipun didasari rasa yang sama, rasa cinta kepada Islam dan Nabi Muhammad Saw, akan tetapi aksi yang berbeda menimbulkan respon yang juga ikut tidak sama. Sebagian sikap kaum muslimin justru mengaminkan tuduhan yang dilontarkan, sehingga orang-orang yang tidak senang terhadap Islam hanya tinggal mengutip bukti dari sebuah asumsi. Di tengah hiruk pikuk tersebut kaum muslimin mesti berhenti sejenak, kembali membaca Islam dari sumber aslinya. Karena tidak semua perlakukan umat Islam sebagai interpretasi Islam. Betapa banyak tindakan umat Islam justru jauh dari nilai-nilai Islam. Tulisan singkat ini ingin mengungkap kedatangan Rasulullah Saw yang digambarkan Allah Swt sebagai ramatan li al-‘alamin sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Qs. Al-Anbiya’ [21]: 107).
Menjadi Rahmat Bagi Semesta Alam.
Allah Swt tidak menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat bagi orang-orang beriman saja, bukan pula menjadi rahmat bagi umat manusia saja. Akan tetapi kedatangannya menjadi rahmat bagi semesta alam. Semesta alam merasakan kedatangannya sebagai rahmat. Ungkapan “rahmat bagi semesta alam” bukanlah hanya tetesan tinta diatas kertas, ungkapan tanpa makna dan bukti. Sejarah mencatat bahwa kedatangan nabi Muhammad Saw dirasakan semesta alam sebagai rahmat, bukan hanya orang-orang beriman yang merasakannya, akan tetapi semua umat manusia, bahkan hewan dan tumbuh-tumbuhan pun dapat merasakan rahmat yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw.
Menjadi Rahmat Bagi Hewan.
Tidak hanya makhluk berakal yang merasakan kehadiran nabi Muhammad Saw sebagai rahmat, bahkan hewan sekalipun merasakan kehadirannya sebagai rahmat. Ini dapat dilihat dari keseharian Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas dikisahkan:
وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال مر رسول الله صلى الله عليه وسلم على رجل واضع رجله على صفحة شاة وهو يحد شفرته وهي تلحظ إليه ببصرها قال : أفلا قبل هذا ؟ أو تريد أن تميتها موتات ؟ رواه الطبراني في الكبير والأوسط ورجاله رجال الصحيح
ورواه الحاكم إلا أنه قال: أ تريد أن تميتها موتات ؟ هلا أحددت شفرتك قبل أن تضجعها
Dari Ibnu abbas, ia berkata: “Rasulullah Saw melewati seorang laki-laki yang meletakkan kakinya diatas tubuh kambing sementara itu ia mengasah pisaunya, sedangkan kambing itu mengamati dengan matanya. Rasulullah Saw berkata: “Mengapa tidak engkau lakukan sebelum ini?! Apakah engkau mau agar ia mati berulang kali?!
Dalam riwayat al-Hakim, Rasulullah Saw bersabda: “Apakah engkau mau membuatnya mati berkali-kali?! Mengapa engkau tidak menajamkan pisaumu sebelum engkau membaringkannya” .
Dari hadits diatas terihat bagaimana Rasulullah Saw menjadi rahmat bagi seekor kambing. Di tengah masyarakat Arab jahiliah yang keras dan kasar bahkan kepada sesama manusia. Tapi Rasulullah Saw memperhatikan akhlak kepada binatang.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya Allah Swt mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu. Apabila kamu membunuh, maka bunuhlah dengan baik. Dan apabila kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan baik. Hendaklah salah seorang kamu menajamkan pisaunya dan membuat hewan sembelihannya tenang”. (HR. Muslim). Dari teks hadits diatas tersirat sebuah ajaran bersikap lembut dan santun, meskipun itu terhadap seekor binatang yang tidak berakal. Berdasarkan ini Islam melarang menyembelih hewan dengan kuku, tulang dan benda tumpul, karena menyebabkan hewan mati tersiksa. Dalam kondisi tertentum, Islam memperbolehkan membunuh binatang berbisa jika keberadaannya membahayakan dan mengancam manusia, bahkan dalam shalat sekalipun:
اقْتُلُوا الأَسْوَدَيْنِ فِى الصَّلاَةِ الْحَيَّةَ وَالْعَقْرَبَ
“Bunuhlah dua yang hitam dalam shalat; ular dan kalajengking”. (HR. Abu Daud). Akan tetapi pembunuhan tersebut dilakukan dengan baik, tidak boleh menyiksa hewan, mesti mati dalam satu pukulan.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw menyatakan:
لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى جُحْرٍ
“Janganlah salah seorang kamu buang air kecil di lobang tanah”. (HR. al-Nasa’i). Dalam kitab Syarh Sunan al-Nasâ’i disebutkan dua alasan mengapa tidak boleh buang air kecil di lobang tanah. Pertama, karena lobang tanah adalah tempat serangga dan binatang berbisa. Kedua, lobang tanah sebagai tempat tinggal jin. Demikian rahmat yang dibawa Rasulullah Saw mencakup semua makhluk, yang nyata maupun yang tidak nyata, sekalipun itu serangga kecil yang mungkin tidak terlihat oleh mata. Bahkan sosok jin yang tidak terlihat di alam nyata.
Menjadi Rahmat Bagi Tumbuh-Tumbuhan.
Bukan hanya hewan yang mendapat rahmat dengan kedatangan Nabi Muhammad Saw, makhluk lain bernama tumbuh-tumbuhan juga mendapat rahmat dengan kedatangan Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda:
إن قامت الساعة وفي يد أحدكم فسيلة فإن استطاع أن لا تقوم حتى يغرسها فليغرسها
“Jika terjadi hari kiamat, di tangan salah seorang kamu ada bibit kurma. Jika ia mampu kiamat tidak terjadi hingga ia menanamkannya, maka hendaklah ia menanamkannya”. (HR. Ahmad) . Dapat dibayangkan, seseorang yang akan meninggal dunia, namun di tangannya ada bibit kurma, Rasulullah Saw menganjurkannya agar menanam bibit kurma tersebut. Untuk apa ia menanam bibit kurma tersebut, ia tidak mungkin dapat bernaung di bawah rindang pohonnya dan ia juga tidak mungkin dapat menikmati buahnya karena ia akan meninggal dunia. Islam mengajarkan bahwa seorang muslim tidak berbuat untuk dirinya sendiri, akan tetapi berbuat untuk orang lain, untuk generasi yang akan datang, untuk kelestarian alam. Andai sabda ini dinyatakan seseorang yang tinggal di iklim tropis, buminya subur, gemah ripah loh jenawi, tongkat dan batu jadi tanaman, tentu sabda ini tidak mengherankan. Akan tetapi, sabda ini dinyatakan seorang nabi yang tinggal di gurun pasir yang panas dan kering kerontang. Di tengah suasana yang tidak lazim, di tengah iklim yang tidak mendukung, Rasulullah Saw masih sempat menyampaikan pesan moral memperhatikan kelestarian alam dengan menanam tanaman. Sebaliknya, bagi orang-orang yang merusak tanaman, Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِى النَّارِ
“Siapa yang memotong pohon Sidr, maka Allah Swt sungkurkan kepalanya dalam api neraka”. (HR. Abu Daud). Jika memotong sebatang pohon saja demikian kerasnya azab yang akan diterima pada hari pembalasan kelak, lantas bagaimanakah hukuman bagi orang-orang yang melakukan praktik illegal loging, membabat habis hutan belantara yang hijau, menyebabkan kerusakan alam berkepanjangan dan menyusahkan banyak orang.
Slogan reboisasi, penghijauan, gerakan menanam, one man one tree, semua ini muncul sebagai reaksi terhadap pembantaian tanpa henti terhadap paru-paru alam. Akan tetapi agama Islam dengan ajarannya yang universal sejak empat belas abad silam telah mencanangkan penghijauan sebagai sebuah ajaran berbasis agama, sehingga penanaman tersebut tidak hanya sebagai wujud kepedulian terhadap alam, akan tetapi juga sebagai sarana ibadah karena melaksanakan seruan Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw mengajarkan sisi lain sedekah yang berkaitan dengan penjagaan alam, ini tersirat dalam sabdanya:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا ، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا ، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Setiap muslim yang menanam tanaman atau tumbuh-tumbuhan, lalu dimakan burung atau manusia atau hewan, maka itu menjadi sedekah baginya”. (HR. Al-Bukhari).
Menjadi Rahmat Bagi Lingkungan.
Pencemaran alam yang telah sampai pada tingkat kritis membuat para ahli lingkungan hidup nyaris berputus asa, akhirnya mereka menyerah pada agama. Maka muncullah para ulama umat Islam yang mengkaji pesan-pesan moral Islam terhadap lingkungan yang terangkum dalam Fiqh al-Bî’ah. Islam tidak hanya terbatas pada pembahasan klasik, berkutat pada pembahasan Thahârah (bersuci), Fiqh Ibadah dan lain sebagainya. Akan tetapi mulai mengkonsentrasikan diri pada pesan-pesan Islam terhadap pemeliharaan lingkungan. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda:
لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ
“Janganlah salah seorang kamu buang air kecil di air tergenang yang tidak mengalir”. (HR. Muslim). Jika membuang limbah pribadi saja dilarang, maka bagaimana dengan limbah pabrik, kotoran kolektif yang merusak alam semesta.
Dalam Islam diajarkan bahwa ibadah shalat tidak sah jika tidak dalam keadaan suci, dan kesucian yang sempurna itu dilakukan dengan air. Bersuci tidak sempurna jika tidak dilakukan dengan air yang juga suci. Oleh sebab itu menjaga kesucian air merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Karena kesucian air terkait erat dengan ibadah yang dilakukan kaum muslimin setiap waktu. Dengan demikian maka menjaga semua sarana yang dapat mewujudkan air yang suci merupakan kewajiban setiap muslim, sama seperti kewajiban ibadah shalat itu sendiri. Karena shalat menjadi tidak sempurna tanpa air yang suci. Seirama dengan kaedah:
مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Yang wajib menjadi tidak sempurna kecuali dengan keberadaannya, maka ia pun ikut menjadi wajib”.
Menjadi Rahmat Bagi Musuh.
Tiga belas tahun lamanya Rasulullah Saw hidup dalam penindasan kaum musyrik Mekah. Siksaan fisik dan mental beliau rasakan dalam kurun waktu yang panjang tersebut. Tak hanya Rasulullah Saw, para pengikutnya ikut merasakan sakitnya penderitaan. Rasulullah Saw tidak mampu menolong mereka, suatu ketika Rasulullah Saw melewati rumah keluarga Yasir, beliau mendengar rintihan Yasir, ‘Ammar putranya dan Sumayyah istrinya akibat siksaan yang mereka alami. Saat itulah keluar ucapan Rasulullah Saw:
صبرا يا آل ياسر ، فإن موعدكم الجنة
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya kamu dijanjikan surga”. (HR. al-Hakim). Bilal bin Rabah dijemur di panas terik, ditimpa dengan batu besar, diikut dengan tali dan berbagai macam siksaan lainnya.
Akhirnya kemenangan itu datang, pada tahun ke delapan Hijrah, Rasulullah Saw bersama sepuluh ribu pasukan memasuki kota Mekah yang dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Mekah). Terbayang di benak Sa’ad bin ‘Ubadah bahwa hari itu adalah hari pembalasan, maka ia katakan, “Ini adalah hari pembalasan”. Akan tetapi, apakah kiranya jawaban Rasulullah Saw mendengar ucapan itu, beliau berkata:
يا أبا سفيان اليوم يوم المرحمة اليوم أعز الله فيه قريشاً
“Wahai Abu Sufyan, ini adalah hari kasih sayang. Hari ini Allah Swt memuliakan orang-orang Quraisy” . Padahal kita tahu bagaimana perlakuan Abu Sufyan dan orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah Saw.
Katika Rasulullah Saw telah selesai menghancurkan patung-patung di sekeliling Ka’bah, beliau berpidato di hadapan penduduk Mekah. Di akhir khutbahnya Rasulullah Saw bertanya kepada penduduk Mekah:
« مَا تَرَوْنَ أَنِّى صَانِعٌ بِكُمْ؟ ».
قَالُوا : خَيْرًا أَخٌ كَرِيمٌ وَابْنُ أَخٍ كَرِيمٍ. قَالَ :« اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ ».
“Menurut kamu, apa yang akan saya lakukan terhadap kamu?”.
Mereka menjawab: “Perlakuan baik. (Engkau) saudara yang mulia dan anak dari seorang saudara yang mulia”.
Rasulullah Saw berkata: “Pergilah kamu, maka kamu adalah orang-orang yang bebas”. (HR. Al-Baihaqi).
Terlihat rahmat yang dibawa Rasulullah Saw, meskipun itu terhadap para musuh yang amat sangat menyakiti beliau.
Demikian Rasulullah Saw memperlakukan musuh-musuhnya. Berikut ini petikan khutbah Rasulullah Saw ketika melepas pasukan menuju Mu’tah:
اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فَقَاتِلُوا عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ بِالشَّامِ وَسَتَجِدُونَ فِيهِمْ رِجَالاً فِى الصَّوَامِعِ مُعْتَزِلِينَ مِنَ النَّاسِ فَلاَ تَعْرِضُوا لَهُمْ وَسَتَجِدُونَ آخَرِينَ لِلشَّيْطَانِ فِى رُءُوسِهِمْ مَفَاحِصُ فَافْلُقُوهَا بِالسُّيُوفِ وَلاَ تَقْتُلُوا امْرَأَةً وَلاَ صَغِيرًا ضَرَعًا وَلاَ كَبِيرًا فَانِيًا وَلاَ تَقْطَعُنَّ شَجَرَةً وَلاَ تَعْقِرُنَّ نَخْلاً وَلاَ تَهْدِمُوا بَيْتًا
“Berperanglah kamu dengan nama Allah. Perangilah musuh Allah dan musuh kamu di negeri Syam. Kamu akan mendapati diantara mereka orang-orang yang tinggal di tempat-tempat ibadah, mereka mengasingkan diri orang banyak. Maka janganlah kamu mengganggu mereka. Dan kamu akan mendapati orang-orang lain yang di kepala mereka ada sarang setan. Maka pecahkanlah dengan pedang-pedang. Janganlah kamu membunuh perempuan, jangan bunuh anak kecil menyusui, jangan bunuh orang tua renta, jangan potong pohon kayu, jangan tebang pohon kurma dan jangan hancurkan rumah”. (HR. Al-Baihaqi).
Jika etika perang seperti ini muncul di tengah masyarakat modern, tentulah itu tidak mengherankan, akan tetapi pesan-pesan Rasulullah Saw ini lahir di tengah masyarakat primitif yang membumihanguskan setiap negeri yang mereka kuasai tanpa menyisakan apa pun, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyata.
Penutup.
Jika pesan-pesan ini lahir dari seorang filusuf yang lahir dan besar di Yunani atau pemikir dari Romawi, tentulah itu tidak mengherankan, karena ia lahir sebagai produk dari lingkungan peradabannya. Akan tetapi pesan-pesan ini lahir dari mulut seorang Muhammad yang lahir di tengah masyarakat Arab Jahiliah yang tidak mengenal peradaban. Tidaka ada yang istimewa bagi sekuntum bunga mawar yang tumbuh di taman yang subur. Namun ketika padang sahara yang tandus mampu mengeluarkan setangakai mawar yang indah dan harum semerbak, disanalah baru terjadi mukjizat. Demikianlah halnya sosok Muhammad Saw, ia bukan produk lingkungannya, akan tetapi datang dari wahyu yang dikirimkan Allah Swt. Pesan-pesan moral Rasulullah Saw yang universal ini mesti dapat dinikmati alam semesta di zaman moderen ini. Warisan Rasulullah Saw tidak hanya dibaca dalam buku-buku sejarah dan buku ilmiah, akan tetapi dapat dilihat dalam sikap dan prilaku setiap muslim sebagai aktualisasi Islam dalam keseharian, hingga muncul sosok-sosok al-Qur’an berjalan seperti yang pernah dilakukan Rasulullah Saw beberapa abad silam.
Pengantar.
Ketika Islam dihujat sebagai agama ekslusif, rasis bahkan fasis, maka respon kaum muslimin pun beraneka ragam. Meskipun didasari rasa yang sama, rasa cinta kepada Islam dan Nabi Muhammad Saw, akan tetapi aksi yang berbeda menimbulkan respon yang juga ikut tidak sama. Sebagian sikap kaum muslimin justru mengaminkan tuduhan yang dilontarkan, sehingga orang-orang yang tidak senang terhadap Islam hanya tinggal mengutip bukti dari sebuah asumsi. Di tengah hiruk pikuk tersebut kaum muslimin mesti berhenti sejenak, kembali membaca Islam dari sumber aslinya. Karena tidak semua perlakukan umat Islam sebagai interpretasi Islam. Betapa banyak tindakan umat Islam justru jauh dari nilai-nilai Islam. Tulisan singkat ini ingin mengungkap kedatangan Rasulullah Saw yang digambarkan Allah Swt sebagai ramatan li al-‘alamin sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Qs. Al-Anbiya’ [21]: 107).
Menjadi Rahmat Bagi Semesta Alam.
Allah Swt tidak menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat bagi orang-orang beriman saja, bukan pula menjadi rahmat bagi umat manusia saja. Akan tetapi kedatangannya menjadi rahmat bagi semesta alam. Semesta alam merasakan kedatangannya sebagai rahmat. Ungkapan “rahmat bagi semesta alam” bukanlah hanya tetesan tinta diatas kertas, ungkapan tanpa makna dan bukti. Sejarah mencatat bahwa kedatangan nabi Muhammad Saw dirasakan semesta alam sebagai rahmat, bukan hanya orang-orang beriman yang merasakannya, akan tetapi semua umat manusia, bahkan hewan dan tumbuh-tumbuhan pun dapat merasakan rahmat yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw.
Menjadi Rahmat Bagi Hewan.
Tidak hanya makhluk berakal yang merasakan kehadiran nabi Muhammad Saw sebagai rahmat, bahkan hewan sekalipun merasakan kehadirannya sebagai rahmat. Ini dapat dilihat dari keseharian Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas dikisahkan:
وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال مر رسول الله صلى الله عليه وسلم على رجل واضع رجله على صفحة شاة وهو يحد شفرته وهي تلحظ إليه ببصرها قال : أفلا قبل هذا ؟ أو تريد أن تميتها موتات ؟ رواه الطبراني في الكبير والأوسط ورجاله رجال الصحيح
ورواه الحاكم إلا أنه قال: أ تريد أن تميتها موتات ؟ هلا أحددت شفرتك قبل أن تضجعها
Dari Ibnu abbas, ia berkata: “Rasulullah Saw melewati seorang laki-laki yang meletakkan kakinya diatas tubuh kambing sementara itu ia mengasah pisaunya, sedangkan kambing itu mengamati dengan matanya. Rasulullah Saw berkata: “Mengapa tidak engkau lakukan sebelum ini?! Apakah engkau mau agar ia mati berulang kali?!
Dalam riwayat al-Hakim, Rasulullah Saw bersabda: “Apakah engkau mau membuatnya mati berkali-kali?! Mengapa engkau tidak menajamkan pisaumu sebelum engkau membaringkannya” .
Dari hadits diatas terihat bagaimana Rasulullah Saw menjadi rahmat bagi seekor kambing. Di tengah masyarakat Arab jahiliah yang keras dan kasar bahkan kepada sesama manusia. Tapi Rasulullah Saw memperhatikan akhlak kepada binatang.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya Allah Swt mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu. Apabila kamu membunuh, maka bunuhlah dengan baik. Dan apabila kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan baik. Hendaklah salah seorang kamu menajamkan pisaunya dan membuat hewan sembelihannya tenang”. (HR. Muslim). Dari teks hadits diatas tersirat sebuah ajaran bersikap lembut dan santun, meskipun itu terhadap seekor binatang yang tidak berakal. Berdasarkan ini Islam melarang menyembelih hewan dengan kuku, tulang dan benda tumpul, karena menyebabkan hewan mati tersiksa. Dalam kondisi tertentum, Islam memperbolehkan membunuh binatang berbisa jika keberadaannya membahayakan dan mengancam manusia, bahkan dalam shalat sekalipun:
اقْتُلُوا الأَسْوَدَيْنِ فِى الصَّلاَةِ الْحَيَّةَ وَالْعَقْرَبَ
“Bunuhlah dua yang hitam dalam shalat; ular dan kalajengking”. (HR. Abu Daud). Akan tetapi pembunuhan tersebut dilakukan dengan baik, tidak boleh menyiksa hewan, mesti mati dalam satu pukulan.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw menyatakan:
لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى جُحْرٍ
“Janganlah salah seorang kamu buang air kecil di lobang tanah”. (HR. al-Nasa’i). Dalam kitab Syarh Sunan al-Nasâ’i disebutkan dua alasan mengapa tidak boleh buang air kecil di lobang tanah. Pertama, karena lobang tanah adalah tempat serangga dan binatang berbisa. Kedua, lobang tanah sebagai tempat tinggal jin. Demikian rahmat yang dibawa Rasulullah Saw mencakup semua makhluk, yang nyata maupun yang tidak nyata, sekalipun itu serangga kecil yang mungkin tidak terlihat oleh mata. Bahkan sosok jin yang tidak terlihat di alam nyata.
Menjadi Rahmat Bagi Tumbuh-Tumbuhan.
Bukan hanya hewan yang mendapat rahmat dengan kedatangan Nabi Muhammad Saw, makhluk lain bernama tumbuh-tumbuhan juga mendapat rahmat dengan kedatangan Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda:
إن قامت الساعة وفي يد أحدكم فسيلة فإن استطاع أن لا تقوم حتى يغرسها فليغرسها
“Jika terjadi hari kiamat, di tangan salah seorang kamu ada bibit kurma. Jika ia mampu kiamat tidak terjadi hingga ia menanamkannya, maka hendaklah ia menanamkannya”. (HR. Ahmad) . Dapat dibayangkan, seseorang yang akan meninggal dunia, namun di tangannya ada bibit kurma, Rasulullah Saw menganjurkannya agar menanam bibit kurma tersebut. Untuk apa ia menanam bibit kurma tersebut, ia tidak mungkin dapat bernaung di bawah rindang pohonnya dan ia juga tidak mungkin dapat menikmati buahnya karena ia akan meninggal dunia. Islam mengajarkan bahwa seorang muslim tidak berbuat untuk dirinya sendiri, akan tetapi berbuat untuk orang lain, untuk generasi yang akan datang, untuk kelestarian alam. Andai sabda ini dinyatakan seseorang yang tinggal di iklim tropis, buminya subur, gemah ripah loh jenawi, tongkat dan batu jadi tanaman, tentu sabda ini tidak mengherankan. Akan tetapi, sabda ini dinyatakan seorang nabi yang tinggal di gurun pasir yang panas dan kering kerontang. Di tengah suasana yang tidak lazim, di tengah iklim yang tidak mendukung, Rasulullah Saw masih sempat menyampaikan pesan moral memperhatikan kelestarian alam dengan menanam tanaman. Sebaliknya, bagi orang-orang yang merusak tanaman, Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِى النَّارِ
“Siapa yang memotong pohon Sidr, maka Allah Swt sungkurkan kepalanya dalam api neraka”. (HR. Abu Daud). Jika memotong sebatang pohon saja demikian kerasnya azab yang akan diterima pada hari pembalasan kelak, lantas bagaimanakah hukuman bagi orang-orang yang melakukan praktik illegal loging, membabat habis hutan belantara yang hijau, menyebabkan kerusakan alam berkepanjangan dan menyusahkan banyak orang.
Slogan reboisasi, penghijauan, gerakan menanam, one man one tree, semua ini muncul sebagai reaksi terhadap pembantaian tanpa henti terhadap paru-paru alam. Akan tetapi agama Islam dengan ajarannya yang universal sejak empat belas abad silam telah mencanangkan penghijauan sebagai sebuah ajaran berbasis agama, sehingga penanaman tersebut tidak hanya sebagai wujud kepedulian terhadap alam, akan tetapi juga sebagai sarana ibadah karena melaksanakan seruan Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw mengajarkan sisi lain sedekah yang berkaitan dengan penjagaan alam, ini tersirat dalam sabdanya:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا ، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا ، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Setiap muslim yang menanam tanaman atau tumbuh-tumbuhan, lalu dimakan burung atau manusia atau hewan, maka itu menjadi sedekah baginya”. (HR. Al-Bukhari).
Menjadi Rahmat Bagi Lingkungan.
Pencemaran alam yang telah sampai pada tingkat kritis membuat para ahli lingkungan hidup nyaris berputus asa, akhirnya mereka menyerah pada agama. Maka muncullah para ulama umat Islam yang mengkaji pesan-pesan moral Islam terhadap lingkungan yang terangkum dalam Fiqh al-Bî’ah. Islam tidak hanya terbatas pada pembahasan klasik, berkutat pada pembahasan Thahârah (bersuci), Fiqh Ibadah dan lain sebagainya. Akan tetapi mulai mengkonsentrasikan diri pada pesan-pesan Islam terhadap pemeliharaan lingkungan. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda:
لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ
“Janganlah salah seorang kamu buang air kecil di air tergenang yang tidak mengalir”. (HR. Muslim). Jika membuang limbah pribadi saja dilarang, maka bagaimana dengan limbah pabrik, kotoran kolektif yang merusak alam semesta.
Dalam Islam diajarkan bahwa ibadah shalat tidak sah jika tidak dalam keadaan suci, dan kesucian yang sempurna itu dilakukan dengan air. Bersuci tidak sempurna jika tidak dilakukan dengan air yang juga suci. Oleh sebab itu menjaga kesucian air merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Karena kesucian air terkait erat dengan ibadah yang dilakukan kaum muslimin setiap waktu. Dengan demikian maka menjaga semua sarana yang dapat mewujudkan air yang suci merupakan kewajiban setiap muslim, sama seperti kewajiban ibadah shalat itu sendiri. Karena shalat menjadi tidak sempurna tanpa air yang suci. Seirama dengan kaedah:
مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Yang wajib menjadi tidak sempurna kecuali dengan keberadaannya, maka ia pun ikut menjadi wajib”.
Menjadi Rahmat Bagi Musuh.
Tiga belas tahun lamanya Rasulullah Saw hidup dalam penindasan kaum musyrik Mekah. Siksaan fisik dan mental beliau rasakan dalam kurun waktu yang panjang tersebut. Tak hanya Rasulullah Saw, para pengikutnya ikut merasakan sakitnya penderitaan. Rasulullah Saw tidak mampu menolong mereka, suatu ketika Rasulullah Saw melewati rumah keluarga Yasir, beliau mendengar rintihan Yasir, ‘Ammar putranya dan Sumayyah istrinya akibat siksaan yang mereka alami. Saat itulah keluar ucapan Rasulullah Saw:
صبرا يا آل ياسر ، فإن موعدكم الجنة
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya kamu dijanjikan surga”. (HR. al-Hakim). Bilal bin Rabah dijemur di panas terik, ditimpa dengan batu besar, diikut dengan tali dan berbagai macam siksaan lainnya.
Akhirnya kemenangan itu datang, pada tahun ke delapan Hijrah, Rasulullah Saw bersama sepuluh ribu pasukan memasuki kota Mekah yang dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Mekah). Terbayang di benak Sa’ad bin ‘Ubadah bahwa hari itu adalah hari pembalasan, maka ia katakan, “Ini adalah hari pembalasan”. Akan tetapi, apakah kiranya jawaban Rasulullah Saw mendengar ucapan itu, beliau berkata:
يا أبا سفيان اليوم يوم المرحمة اليوم أعز الله فيه قريشاً
“Wahai Abu Sufyan, ini adalah hari kasih sayang. Hari ini Allah Swt memuliakan orang-orang Quraisy” . Padahal kita tahu bagaimana perlakuan Abu Sufyan dan orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah Saw.
Katika Rasulullah Saw telah selesai menghancurkan patung-patung di sekeliling Ka’bah, beliau berpidato di hadapan penduduk Mekah. Di akhir khutbahnya Rasulullah Saw bertanya kepada penduduk Mekah:
« مَا تَرَوْنَ أَنِّى صَانِعٌ بِكُمْ؟ ».
قَالُوا : خَيْرًا أَخٌ كَرِيمٌ وَابْنُ أَخٍ كَرِيمٍ. قَالَ :« اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ ».
“Menurut kamu, apa yang akan saya lakukan terhadap kamu?”.
Mereka menjawab: “Perlakuan baik. (Engkau) saudara yang mulia dan anak dari seorang saudara yang mulia”.
Rasulullah Saw berkata: “Pergilah kamu, maka kamu adalah orang-orang yang bebas”. (HR. Al-Baihaqi).
Terlihat rahmat yang dibawa Rasulullah Saw, meskipun itu terhadap para musuh yang amat sangat menyakiti beliau.
Demikian Rasulullah Saw memperlakukan musuh-musuhnya. Berikut ini petikan khutbah Rasulullah Saw ketika melepas pasukan menuju Mu’tah:
اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فَقَاتِلُوا عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ بِالشَّامِ وَسَتَجِدُونَ فِيهِمْ رِجَالاً فِى الصَّوَامِعِ مُعْتَزِلِينَ مِنَ النَّاسِ فَلاَ تَعْرِضُوا لَهُمْ وَسَتَجِدُونَ آخَرِينَ لِلشَّيْطَانِ فِى رُءُوسِهِمْ مَفَاحِصُ فَافْلُقُوهَا بِالسُّيُوفِ وَلاَ تَقْتُلُوا امْرَأَةً وَلاَ صَغِيرًا ضَرَعًا وَلاَ كَبِيرًا فَانِيًا وَلاَ تَقْطَعُنَّ شَجَرَةً وَلاَ تَعْقِرُنَّ نَخْلاً وَلاَ تَهْدِمُوا بَيْتًا
“Berperanglah kamu dengan nama Allah. Perangilah musuh Allah dan musuh kamu di negeri Syam. Kamu akan mendapati diantara mereka orang-orang yang tinggal di tempat-tempat ibadah, mereka mengasingkan diri orang banyak. Maka janganlah kamu mengganggu mereka. Dan kamu akan mendapati orang-orang lain yang di kepala mereka ada sarang setan. Maka pecahkanlah dengan pedang-pedang. Janganlah kamu membunuh perempuan, jangan bunuh anak kecil menyusui, jangan bunuh orang tua renta, jangan potong pohon kayu, jangan tebang pohon kurma dan jangan hancurkan rumah”. (HR. Al-Baihaqi).
Jika etika perang seperti ini muncul di tengah masyarakat modern, tentulah itu tidak mengherankan, akan tetapi pesan-pesan Rasulullah Saw ini lahir di tengah masyarakat primitif yang membumihanguskan setiap negeri yang mereka kuasai tanpa menyisakan apa pun, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyata.
Penutup.
Jika pesan-pesan ini lahir dari seorang filusuf yang lahir dan besar di Yunani atau pemikir dari Romawi, tentulah itu tidak mengherankan, karena ia lahir sebagai produk dari lingkungan peradabannya. Akan tetapi pesan-pesan ini lahir dari mulut seorang Muhammad yang lahir di tengah masyarakat Arab Jahiliah yang tidak mengenal peradaban. Tidaka ada yang istimewa bagi sekuntum bunga mawar yang tumbuh di taman yang subur. Namun ketika padang sahara yang tandus mampu mengeluarkan setangakai mawar yang indah dan harum semerbak, disanalah baru terjadi mukjizat. Demikianlah halnya sosok Muhammad Saw, ia bukan produk lingkungannya, akan tetapi datang dari wahyu yang dikirimkan Allah Swt. Pesan-pesan moral Rasulullah Saw yang universal ini mesti dapat dinikmati alam semesta di zaman moderen ini. Warisan Rasulullah Saw tidak hanya dibaca dalam buku-buku sejarah dan buku ilmiah, akan tetapi dapat dilihat dalam sikap dan prilaku setiap muslim sebagai aktualisasi Islam dalam keseharian, hingga muncul sosok-sosok al-Qur’an berjalan seperti yang pernah dilakukan Rasulullah Saw beberapa abad silam.
Sabtu, 28 Januari 2012
7 Hadis, Mengapa Bersedekah?
Masjid Akramunnas Universitas Riau, Kampus Gobah,
Kajian Hadis, Sabtu Ba'da Shubuh, 28 januari 2012
7 hadis, Mengapa bersedekah?
1. Ingin Memperoleh Perlindungan di dunia:
« مَا مِنْ مسلم يكسُو مسلما ثوبا إلا كان في حفظ الله ما دام عليه منه خِرْقَة ».أخرجه الترمذي.
“Seorang muslim yang memberi kain/pakaian kepada muslim yang lain, maka ia tetap berada dalam perlindungan Allah Swt selama kain itu tetap ada walaupun sepotong”.
(HR. at-Tirmidzi).
2. Ingin Mendapat Naungan di akhirat:
عن عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ
كُلُّ امْرِئٍ فِى ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda:
“Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya hingga (perkara) diputuskan diantara umat manusia”.
(HR. Ahmad).
3. Mengobati penyakit fisik:
دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obatilah orang yang sakit diantara kamu dengan sedekah”
Dinyatakan Shahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir.
4. Mengobati penyakit batin:
عن أبي هريرة : ان رجلا شكا إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم قسوة قلبه فقال له ان أردت تليين قلبك فأطعم المسكين وامسح رأس اليتيم
Dari Abu Hurairah, seseorang datang mengadu kepada Rasulullah Saw tentang hatinya yang keras. Maka Rasulullah Saw berkata kepadanya, “Jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makanan kepada orang miskin dan usaplah kepada anak yatim”. (HR. Ahmad). Hadits Hasan menurut Syekh al-Albani.
5. Memadamkan dosa:
والصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار
“Sedekah memadamkan dosa seperti air memadamkan api”.
(HR. At-Tirmidzi).
Dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi.
6. Meredam murka dan menolak mati jelek:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ ».
Dari Anas, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya sedekah memadamkan murka Allah dan menolak kematian dalam kondisi tidak baik”.
(HR. At-Tirmidzi). Dinyatakan sebagai hadits Hasan oleh Imam at-Tirmidzi.
7. Mengaminkan doa malaikat:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda:
“Setiap hamba yang menjalani suatu hari, maka ada dua malaikat yang turun pada hari itu. Salah satu dari malaikat itu berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti untuk orang yang bersedekah’. Malaikat yang lain berkata: ‘Ya Allah, berilah kebinasaan kepada orang yang tidak mau bersedekah’.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Kajian Hadis, Sabtu Ba'da Shubuh, 28 januari 2012
7 hadis, Mengapa bersedekah?
1. Ingin Memperoleh Perlindungan di dunia:
« مَا مِنْ مسلم يكسُو مسلما ثوبا إلا كان في حفظ الله ما دام عليه منه خِرْقَة ».أخرجه الترمذي.
“Seorang muslim yang memberi kain/pakaian kepada muslim yang lain, maka ia tetap berada dalam perlindungan Allah Swt selama kain itu tetap ada walaupun sepotong”.
(HR. at-Tirmidzi).
2. Ingin Mendapat Naungan di akhirat:
عن عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ
كُلُّ امْرِئٍ فِى ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda:
“Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya hingga (perkara) diputuskan diantara umat manusia”.
(HR. Ahmad).
3. Mengobati penyakit fisik:
دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obatilah orang yang sakit diantara kamu dengan sedekah”
Dinyatakan Shahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir.
4. Mengobati penyakit batin:
عن أبي هريرة : ان رجلا شكا إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم قسوة قلبه فقال له ان أردت تليين قلبك فأطعم المسكين وامسح رأس اليتيم
Dari Abu Hurairah, seseorang datang mengadu kepada Rasulullah Saw tentang hatinya yang keras. Maka Rasulullah Saw berkata kepadanya, “Jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makanan kepada orang miskin dan usaplah kepada anak yatim”. (HR. Ahmad). Hadits Hasan menurut Syekh al-Albani.
5. Memadamkan dosa:
والصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار
“Sedekah memadamkan dosa seperti air memadamkan api”.
(HR. At-Tirmidzi).
Dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi.
6. Meredam murka dan menolak mati jelek:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ ».
Dari Anas, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya sedekah memadamkan murka Allah dan menolak kematian dalam kondisi tidak baik”.
(HR. At-Tirmidzi). Dinyatakan sebagai hadits Hasan oleh Imam at-Tirmidzi.
7. Mengaminkan doa malaikat:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda:
“Setiap hamba yang menjalani suatu hari, maka ada dua malaikat yang turun pada hari itu. Salah satu dari malaikat itu berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti untuk orang yang bersedekah’. Malaikat yang lain berkata: ‘Ya Allah, berilah kebinasaan kepada orang yang tidak mau bersedekah’.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Rabu, 25 Januari 2012
KHUTBAH NIKAH
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا،
من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
(يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون)
(يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالاً كثيراً ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيباً)
(يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولاً سديداً* يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيماً)
أما بعد:
فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة." رواه مسلم وغيره.
فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - شَبَابًا لاَ نَجِدُ شَيْئًا فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهُ - صلى الله عليه وسلم - « يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ » . (البخاري).-
أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ - رضى الله عنه –
وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى » . (البخاري).-
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ » . (البخاري).-
من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
(يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون)
(يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالاً كثيراً ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيباً)
(يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولاً سديداً* يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيماً)
أما بعد:
فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة." رواه مسلم وغيره.
فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - شَبَابًا لاَ نَجِدُ شَيْئًا فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهُ - صلى الله عليه وسلم - « يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ » . (البخاري).-
أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ - رضى الله عنه –
وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى » . (البخاري).-
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ » . (البخاري).-
Selasa, 24 Januari 2012
APA HUKUM PERINGATAN MAULID USTADZ?
Saya merasa tak pantas menjawab pertanyaan ini, saya nukilkan beberapa pendapat ulama:
PENDAPAT AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-‘ASQALANI:
وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل بن حجر عن عمل المولد فأجاب بما نصه: أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا قال وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم_ الكتاب : الحاوي للفتاوي للسيوطي
Syaikhul Islam Hafizh al-‘Ashr Abu al-Fadhl Ibnu Hajar ditanya tentang maulid nabi. Beliau menjawab:
Asal perbuatan malid adalah bid’ah. Tidak ada riwayat dari seorang pun dari kalangan Salafushaleh dari tiga abad pertama tentang itu. Akan tetapi maulid mengandung banyak kebaikan dan lawannya. Siapa yang mencari kebaikan dan menghindari lawannya, maka itu adalah bid’ah hasanah. Jika tidak, maka tidak dapat dianggap bid’ah hasanah. Terlihat jelas bagi saya mengeluarkan hukumnya dari dasar yang kuat, yaitu hadits yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Rasulullah Saw ketika tiba di Madinah, ia dapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Ia bertanya kepada mereka, mereka menjawab, bahwa itu adalah hari Allah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Musa. Maka kami berpuasa bersyukur kepada Allah”. Maka dapat diambil pelajaran dari itu bahwa bersyukur kepada Allah pada hari tertentu disebabkan mendapat nikmat atau ditolaknya bala, itu dapat dijadikan perbandingan. Pada hari itu setiap tahun. Syukur kepada Allah dapat diungkapkan dengan berbagai jenis ibadah seperti sujud, berpuasa, sedekah dan membaca al-Qur’an. Adakah nikmat yang lebih besar daripada nikmat dimunculkannya nabi ini, nabi rahmat pada hari itu?!
PENDAPAT AL-HAFIZH SYAMSUDDIN BIN AL-JAZARI:
إمام القراء الحافظ شمس الدين بن الجزري قال في كتابه المسمى عرف التعريف بالمولد الشريف ما نصه قد رؤى أبو لهب بعد موته في النوم فقيل له ما حالك فقال في النار إلا أنه يخفف عني كل ليلة اثنين وأمص من بين أصبعي ماء بقدر هذا- وأشار لرأس أصبعه- وأن ذلك بإعتاقي لثويبة عندما بشرتني بولادة النبي صلى الله عليه وسلم وبإرضاعها له. فإذا كان أبو لهب الكافر الذي نزل القرآن بذمه جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي صلى اله عليه وسلم به فما حال المسلم الموحد من أمة النبي صلى اله عليه وسلم يسر بمولده ويبذل ما تصل إليه قدرته في محبته صلى الله عليه وسلم لعمري إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله جنات النعيم._ الكتاب : الحاوي للفتاوي للسيوطي
Imam para ahli Qira’at, al-Hafizh Syamsuddin bin al-Jazari, ia berkata dalam kitab ‘Urf at-Ta’rif bi al-Maulid asy-Syarif, teksnya:
“Abu Lahab diperlihatkan di dalam mimpi setelah ia mati, ditanyakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?”. Ia menjawab, “Di dalam neraka, hanya saja azabku diringankan setiap malam Senin. Aku menghisap air diantara jari jemariku sekadar ini – ia menunjuk induk jarinya-. Itu aku dapatkan karena aku memerdekakan Tsuwaibah ketika ia memberikan kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Muhammad dan ia menyusukan Muhammad”.
Jika Abu Lahab yang kafir, kecamannya disebutkan dalam al-Qur’an, ia diberi balasan di dalam neraka karena kelahiran nabi Muhammad dan apa yang telah ia berikan karena sayangnya kepada nabi Muhammad. Maka demi usiaku, balasan bagi orang yang bahagia dengan kelahiran nabi Muhammad Saw adalah memasukkannya ke dalam surga.
PENDAPAT AL-HAFIZH SYAMSUDDIN BIN NASHIRUDDIN AD-DIMASYQI:
وقال الحافظ شمس الدين بن ناصر الدين الدمشقي في كتابه المسمى مورد الصادي في مولد الهادي قد صح أن أبا لهب يخفف عنه عذاب النار في مثل يوم الاثنين لإعتاقه ثويبة سرورا بميلاد النبي صلى الله عليه وسلم ثم أنشد:
إذا كان هذا كافرا جاء ذمه * وتبت يداه في الجحيم مخلدا
أتى أنه في يوم الاثنين دائما * يخفف عنه للسرور بأحمدا
فما الظن بالعبد الذي طول عمره * بأحمد مسرورا ومات موحدا
الكتاب : الحاوي للفتاوي للسيوطي
Al-Hafizh Syamsuddin bin Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata dalam kitabnya berjudul: Mawrid ash-Shadi fi Maulid al-Hadi:
“Shahih bahwa Abu Lahab diringankan azabnya pada hari Senin karena ia memerdekakan Tsuwaibah karena gembira atas kelahiran Rasulullah Saw”. Kemudian beliau bersyair:
Jika seorang kafir yang telah dikecam * Kekal di dalam neraka Jahim
Diriwayatkan bahwa setiap hari Senin * Diringankan azabnya karena senang atas kelahirannya
Bagaimanakah prasangka terhadap hamba yang seumur hidupnya *
Bahagia dengan kedatangan Ahmad dan mati dalam keadaan bertauhid?!
PENDAPAT SYEKH DR.YUSUF AL-QARADHAWI.
حكم الاحتفال بالمولد النبوي
موقع القرضاوي/19-3-2008
Hukum memperingati maulid nabi.
Web Syekh Yusuf al-Qaradhari/ 19 Maret 2008
تلقى فضيلة العلامة الدكتور يوسف القرضاوي - رئيس الإتحاد العالمي لعلماء المسلمين - استفساراً من أحد القراء يقول فيه: شيخي الجليل يعلم الله أني أحبك في الله، وبمناسبة قرب مولد الحبيب صلى الله عليه وسلم ما حكم الاحتفال بهذه المناسبة؟ وما واجبنا تجاه الحبيب صلى الله عليه وسلم؟
Al-‘Allamah DR.Yusuf al-Qaradhawi –ketua persatuan ulama dunia- menerima permohonan agar diberikan penjelasan dari salah seorang pembaca, ia nyatakan: “Wahai Syekh saya yang mulia, Allah Maha Mengetahui bahwa saya menyayangi Anda karena Allah. Bertepatan dengan mendekatnya hari kelahiran nabi Muhammad Saw. Apakah hukum merayakan maulid nabi? Apa kewajiban kita terhadap Rasulullah?
وقد أجاب فضيلته على السائل بقوله: بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وبعد:
فهناك لون من الاحتفال يمكن أن نقره ونعتبره نافعاً للمسلمين، ونحن نعلم أن الصحابة رضوان الله عليهم لم يكونوا يحتفلون بمولد الرسول صلى الله عليه وسلم ولا بالهجرة النبوية ولا بغزوة بدر، لماذا؟
Syekh Dr. Yusuf al-Qaradhawi menjawab:
Bismillah, walhamdu lillah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Saw, wa ba’du:
لأن هذه الأشياء عاشوها بالفعل، وكانوا يحيون مع الرسول صلى الله عليه وسلم، كان الرسول صلى الله عليه وسلم حياً في ضمائرهم، لم يغب عن وعيهم، كان سعد بن أبي وقاص يقول: كنا نروي أبناءنا مغازي رسول الله صلى الله عليه وسلم كما نحفِّظهم السورة من القرآن، بأن يحكوا للأولاد ماذا حدث في غزوة بدر وفي غزوة أحد، وفي غزوة الخندق وفي غزوة خيبر، فكانوا يحكون لهم ماذا حدث في حياة النبي صلى الله عليه وسلم، فلم يكونوا إذن في حاجة إلى تذكّر هذه الأشياء.
Karena berbagai peristiwa itu benar-benar mereka alami, mereka hidup bersama Rasulullah Saw. Rasulullah Saw hidup dalam hati mereka, tidak pernah hilang dari kesadaran mereka. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata: “Kami meriwayatkan kepada anak-anak kami tentang peperangan Rasulullah Saw sebagaimana kami menghafalkan surat dari al-Qur’an kepada mereka”. Mereka menceritakan kepada anak-anak mereka tentang peristiwa yang terjadi pada perang Badar, Uhud, Khandaq, Khaibar, mereka menceritakan apa yang terjadi pada kehidupan Rasulullah Saw. Oleh sebab itu mereka tidak perlu mengingat-ingat berbagai peristiwa tersebut.
ثم جاء عصر نسي الناس هذه الأحداث وأصبحت غائبة عن وعيهم، وغائبة عن عقولهم وضمائرهم، فاحتاج الناس إلى إحياء هذه المعاني التي ماتت والتذكير بهذه المآثر التي نُسيت، صحيح اتُخِذت بعض البدع في هذه الأشياء ولكنني أقول إننا نحتفل بأن نذكر الناس بحقائق السيرة النبوية وحقائق الرسالة المحمدية، فعندما أحتفل بمولد الرسول فأنا أحتفل بمولد الرسالة، فأنا أذكِّر الناس برسالة رسول الله وبسيرة رسول الله.
Kemudian tibalah masa manusia melupakan berbagai peristiwa tersebut. Berbagai peristiwa itu terlupakan dari ingatan mereka, hilang dari akal dan hati mereka. Manusia perlu menghidupkan makna-makna yang telah mati, mengingatkan peninggalan-peninggalan yang terlupakan. Benar bahwa beberapa bentuk bid’ah telah terjadi dalam masalah ini, akan tetapi saya katakana bahwa kita memperingati maulid nabi dengan mengingatkan manusia tentang hakikat kebenaran sejarah nabi, hakikat risalah nabi Muhammad Saw. Ketika saya merayakan maulid nabi, maka saya sedang merayakan lahirnya risalah Islam, saya mengingatkan manusia tentang risalah Rasulullah Saw dan sejarah Rasulullah Saw.
وفي هذه المناسبة أذكِّر الناس بهذا الحدث العظيم وبما يُستفاد به من دروس، لأربط الناس بسيرة النبي صلى الله عليه وسلم (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا) [الأحزاب 21] لنضحي كما ضحى الصحابة، كما ضحى علِيّ حينما وضع نفسه موضع النبي صلى الله عليه وسلم، كما ضحت أسماء وهي تصعد إلى جبل ثور، هذا الجبل الشاق كل يوم، لنخطط كما خطط النبي للهجرة، لنتوكل على الله كما توكل على الله حينما قال له أبو بكر: والله يا رسول الله لو نظر أحدهم تحت قدميه لرآنا، فقال: "يا أبا بكر ما ظنك في اثنين الله ثالثهما، لا تحزن إن الله معنا".
Pada momen peringatan maulid nabi ini saya mengingatkan manusia tentang peristiwa besar dan pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik, agar saya dapat mempererat hubungan antara manusia dengan sejarah nabi Muhammad Saw, “Sesungguhnya bagi kamu dalam diri Rasulullah Saw itu terdapat suri tauladan yang baik, bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhirat dan mengingat Allah sebanyak-banyaknya”. (Qs. al-Ahzab: 21). Agar kita dapat berkorban seperti para shahabat berkorban, sebagaimana Ali mengorbankan dirinya ketika ia meletakkan dirinya di tempat Rasulullah Saw. Sebagaimana Asma’ berkorban ketika ia naik ke jabal Tsaur, bukit yang terjal. Agar kita membuat strategi sebagaimana Rasulullah Saw membuat strategi hijrah. Agar kita bertawakkal sebagaimana Rasulullah Saw bertawakkal kepada Allah ketika Abu Bakar berkata kepadanya, “Demi Allah wahai Rasulullah, andai salah seorang dari mereka melihat di bawah kakinya, pastilah mereka melihat kita”. maka Rasulullah Saw menjawab, “Wahai Abu Bakar, jika menurutmu ada dua, maka Allah yang ketiga. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”.
نحن في حاجة إلى هذه الدروس فهذا النوع من الاحتفال تذكير الناس بهذه المعاني، أعتقد أن وراءه ثمرة إيجابية هي ربط المسلمين بالإسلام وربطهم بسيرة النبي صلى الله عليه وسلم ليأخذوا منه الأسوة والقدوة، أما الأشياء التي تخرج عن هذا فليست من الاحتفال؛ ولا نقر أحدًا عليها.
Kita sangat membutuhkan pelajaran-pelajaran ini. peringatan seperti ini mengingatkan manusia kepada makna-makna ini. saya yakin bahwa di balik peringatan maulid nabi ada hasil yang positif, yaitu mengikatkan kembali kaum muslimin dengan Islam, mengikatkan mereka dengan sejarah Rasulullah Saw, agar mereka menjadikannya sebagai suri tauladan dan contoh. Adapun hal-hal yang keluar daripada ini, maka bukan bagian dari peringatan maulid nabi dan kami tidak mengakui seorang pun untuk melakukannya.
Web:
http://www.qaradawi.net/site/topics/article.asp?cu_no=2&item_no=5852&version=1&template_id=130&parent_id=17
PENDAPAT AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-‘ASQALANI:
وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل بن حجر عن عمل المولد فأجاب بما نصه: أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا قال وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم_ الكتاب : الحاوي للفتاوي للسيوطي
Syaikhul Islam Hafizh al-‘Ashr Abu al-Fadhl Ibnu Hajar ditanya tentang maulid nabi. Beliau menjawab:
Asal perbuatan malid adalah bid’ah. Tidak ada riwayat dari seorang pun dari kalangan Salafushaleh dari tiga abad pertama tentang itu. Akan tetapi maulid mengandung banyak kebaikan dan lawannya. Siapa yang mencari kebaikan dan menghindari lawannya, maka itu adalah bid’ah hasanah. Jika tidak, maka tidak dapat dianggap bid’ah hasanah. Terlihat jelas bagi saya mengeluarkan hukumnya dari dasar yang kuat, yaitu hadits yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Rasulullah Saw ketika tiba di Madinah, ia dapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Ia bertanya kepada mereka, mereka menjawab, bahwa itu adalah hari Allah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Musa. Maka kami berpuasa bersyukur kepada Allah”. Maka dapat diambil pelajaran dari itu bahwa bersyukur kepada Allah pada hari tertentu disebabkan mendapat nikmat atau ditolaknya bala, itu dapat dijadikan perbandingan. Pada hari itu setiap tahun. Syukur kepada Allah dapat diungkapkan dengan berbagai jenis ibadah seperti sujud, berpuasa, sedekah dan membaca al-Qur’an. Adakah nikmat yang lebih besar daripada nikmat dimunculkannya nabi ini, nabi rahmat pada hari itu?!
PENDAPAT AL-HAFIZH SYAMSUDDIN BIN AL-JAZARI:
إمام القراء الحافظ شمس الدين بن الجزري قال في كتابه المسمى عرف التعريف بالمولد الشريف ما نصه قد رؤى أبو لهب بعد موته في النوم فقيل له ما حالك فقال في النار إلا أنه يخفف عني كل ليلة اثنين وأمص من بين أصبعي ماء بقدر هذا- وأشار لرأس أصبعه- وأن ذلك بإعتاقي لثويبة عندما بشرتني بولادة النبي صلى الله عليه وسلم وبإرضاعها له. فإذا كان أبو لهب الكافر الذي نزل القرآن بذمه جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي صلى اله عليه وسلم به فما حال المسلم الموحد من أمة النبي صلى اله عليه وسلم يسر بمولده ويبذل ما تصل إليه قدرته في محبته صلى الله عليه وسلم لعمري إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله جنات النعيم._ الكتاب : الحاوي للفتاوي للسيوطي
Imam para ahli Qira’at, al-Hafizh Syamsuddin bin al-Jazari, ia berkata dalam kitab ‘Urf at-Ta’rif bi al-Maulid asy-Syarif, teksnya:
“Abu Lahab diperlihatkan di dalam mimpi setelah ia mati, ditanyakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?”. Ia menjawab, “Di dalam neraka, hanya saja azabku diringankan setiap malam Senin. Aku menghisap air diantara jari jemariku sekadar ini – ia menunjuk induk jarinya-. Itu aku dapatkan karena aku memerdekakan Tsuwaibah ketika ia memberikan kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Muhammad dan ia menyusukan Muhammad”.
Jika Abu Lahab yang kafir, kecamannya disebutkan dalam al-Qur’an, ia diberi balasan di dalam neraka karena kelahiran nabi Muhammad dan apa yang telah ia berikan karena sayangnya kepada nabi Muhammad. Maka demi usiaku, balasan bagi orang yang bahagia dengan kelahiran nabi Muhammad Saw adalah memasukkannya ke dalam surga.
PENDAPAT AL-HAFIZH SYAMSUDDIN BIN NASHIRUDDIN AD-DIMASYQI:
وقال الحافظ شمس الدين بن ناصر الدين الدمشقي في كتابه المسمى مورد الصادي في مولد الهادي قد صح أن أبا لهب يخفف عنه عذاب النار في مثل يوم الاثنين لإعتاقه ثويبة سرورا بميلاد النبي صلى الله عليه وسلم ثم أنشد:
إذا كان هذا كافرا جاء ذمه * وتبت يداه في الجحيم مخلدا
أتى أنه في يوم الاثنين دائما * يخفف عنه للسرور بأحمدا
فما الظن بالعبد الذي طول عمره * بأحمد مسرورا ومات موحدا
الكتاب : الحاوي للفتاوي للسيوطي
Al-Hafizh Syamsuddin bin Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata dalam kitabnya berjudul: Mawrid ash-Shadi fi Maulid al-Hadi:
“Shahih bahwa Abu Lahab diringankan azabnya pada hari Senin karena ia memerdekakan Tsuwaibah karena gembira atas kelahiran Rasulullah Saw”. Kemudian beliau bersyair:
Jika seorang kafir yang telah dikecam * Kekal di dalam neraka Jahim
Diriwayatkan bahwa setiap hari Senin * Diringankan azabnya karena senang atas kelahirannya
Bagaimanakah prasangka terhadap hamba yang seumur hidupnya *
Bahagia dengan kedatangan Ahmad dan mati dalam keadaan bertauhid?!
PENDAPAT SYEKH DR.YUSUF AL-QARADHAWI.
حكم الاحتفال بالمولد النبوي
موقع القرضاوي/19-3-2008
Hukum memperingati maulid nabi.
Web Syekh Yusuf al-Qaradhari/ 19 Maret 2008
تلقى فضيلة العلامة الدكتور يوسف القرضاوي - رئيس الإتحاد العالمي لعلماء المسلمين - استفساراً من أحد القراء يقول فيه: شيخي الجليل يعلم الله أني أحبك في الله، وبمناسبة قرب مولد الحبيب صلى الله عليه وسلم ما حكم الاحتفال بهذه المناسبة؟ وما واجبنا تجاه الحبيب صلى الله عليه وسلم؟
Al-‘Allamah DR.Yusuf al-Qaradhawi –ketua persatuan ulama dunia- menerima permohonan agar diberikan penjelasan dari salah seorang pembaca, ia nyatakan: “Wahai Syekh saya yang mulia, Allah Maha Mengetahui bahwa saya menyayangi Anda karena Allah. Bertepatan dengan mendekatnya hari kelahiran nabi Muhammad Saw. Apakah hukum merayakan maulid nabi? Apa kewajiban kita terhadap Rasulullah?
وقد أجاب فضيلته على السائل بقوله: بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وبعد:
فهناك لون من الاحتفال يمكن أن نقره ونعتبره نافعاً للمسلمين، ونحن نعلم أن الصحابة رضوان الله عليهم لم يكونوا يحتفلون بمولد الرسول صلى الله عليه وسلم ولا بالهجرة النبوية ولا بغزوة بدر، لماذا؟
Syekh Dr. Yusuf al-Qaradhawi menjawab:
Bismillah, walhamdu lillah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Saw, wa ba’du:
لأن هذه الأشياء عاشوها بالفعل، وكانوا يحيون مع الرسول صلى الله عليه وسلم، كان الرسول صلى الله عليه وسلم حياً في ضمائرهم، لم يغب عن وعيهم، كان سعد بن أبي وقاص يقول: كنا نروي أبناءنا مغازي رسول الله صلى الله عليه وسلم كما نحفِّظهم السورة من القرآن، بأن يحكوا للأولاد ماذا حدث في غزوة بدر وفي غزوة أحد، وفي غزوة الخندق وفي غزوة خيبر، فكانوا يحكون لهم ماذا حدث في حياة النبي صلى الله عليه وسلم، فلم يكونوا إذن في حاجة إلى تذكّر هذه الأشياء.
Karena berbagai peristiwa itu benar-benar mereka alami, mereka hidup bersama Rasulullah Saw. Rasulullah Saw hidup dalam hati mereka, tidak pernah hilang dari kesadaran mereka. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata: “Kami meriwayatkan kepada anak-anak kami tentang peperangan Rasulullah Saw sebagaimana kami menghafalkan surat dari al-Qur’an kepada mereka”. Mereka menceritakan kepada anak-anak mereka tentang peristiwa yang terjadi pada perang Badar, Uhud, Khandaq, Khaibar, mereka menceritakan apa yang terjadi pada kehidupan Rasulullah Saw. Oleh sebab itu mereka tidak perlu mengingat-ingat berbagai peristiwa tersebut.
ثم جاء عصر نسي الناس هذه الأحداث وأصبحت غائبة عن وعيهم، وغائبة عن عقولهم وضمائرهم، فاحتاج الناس إلى إحياء هذه المعاني التي ماتت والتذكير بهذه المآثر التي نُسيت، صحيح اتُخِذت بعض البدع في هذه الأشياء ولكنني أقول إننا نحتفل بأن نذكر الناس بحقائق السيرة النبوية وحقائق الرسالة المحمدية، فعندما أحتفل بمولد الرسول فأنا أحتفل بمولد الرسالة، فأنا أذكِّر الناس برسالة رسول الله وبسيرة رسول الله.
Kemudian tibalah masa manusia melupakan berbagai peristiwa tersebut. Berbagai peristiwa itu terlupakan dari ingatan mereka, hilang dari akal dan hati mereka. Manusia perlu menghidupkan makna-makna yang telah mati, mengingatkan peninggalan-peninggalan yang terlupakan. Benar bahwa beberapa bentuk bid’ah telah terjadi dalam masalah ini, akan tetapi saya katakana bahwa kita memperingati maulid nabi dengan mengingatkan manusia tentang hakikat kebenaran sejarah nabi, hakikat risalah nabi Muhammad Saw. Ketika saya merayakan maulid nabi, maka saya sedang merayakan lahirnya risalah Islam, saya mengingatkan manusia tentang risalah Rasulullah Saw dan sejarah Rasulullah Saw.
وفي هذه المناسبة أذكِّر الناس بهذا الحدث العظيم وبما يُستفاد به من دروس، لأربط الناس بسيرة النبي صلى الله عليه وسلم (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا) [الأحزاب 21] لنضحي كما ضحى الصحابة، كما ضحى علِيّ حينما وضع نفسه موضع النبي صلى الله عليه وسلم، كما ضحت أسماء وهي تصعد إلى جبل ثور، هذا الجبل الشاق كل يوم، لنخطط كما خطط النبي للهجرة، لنتوكل على الله كما توكل على الله حينما قال له أبو بكر: والله يا رسول الله لو نظر أحدهم تحت قدميه لرآنا، فقال: "يا أبا بكر ما ظنك في اثنين الله ثالثهما، لا تحزن إن الله معنا".
Pada momen peringatan maulid nabi ini saya mengingatkan manusia tentang peristiwa besar dan pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik, agar saya dapat mempererat hubungan antara manusia dengan sejarah nabi Muhammad Saw, “Sesungguhnya bagi kamu dalam diri Rasulullah Saw itu terdapat suri tauladan yang baik, bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhirat dan mengingat Allah sebanyak-banyaknya”. (Qs. al-Ahzab: 21). Agar kita dapat berkorban seperti para shahabat berkorban, sebagaimana Ali mengorbankan dirinya ketika ia meletakkan dirinya di tempat Rasulullah Saw. Sebagaimana Asma’ berkorban ketika ia naik ke jabal Tsaur, bukit yang terjal. Agar kita membuat strategi sebagaimana Rasulullah Saw membuat strategi hijrah. Agar kita bertawakkal sebagaimana Rasulullah Saw bertawakkal kepada Allah ketika Abu Bakar berkata kepadanya, “Demi Allah wahai Rasulullah, andai salah seorang dari mereka melihat di bawah kakinya, pastilah mereka melihat kita”. maka Rasulullah Saw menjawab, “Wahai Abu Bakar, jika menurutmu ada dua, maka Allah yang ketiga. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”.
نحن في حاجة إلى هذه الدروس فهذا النوع من الاحتفال تذكير الناس بهذه المعاني، أعتقد أن وراءه ثمرة إيجابية هي ربط المسلمين بالإسلام وربطهم بسيرة النبي صلى الله عليه وسلم ليأخذوا منه الأسوة والقدوة، أما الأشياء التي تخرج عن هذا فليست من الاحتفال؛ ولا نقر أحدًا عليها.
Kita sangat membutuhkan pelajaran-pelajaran ini. peringatan seperti ini mengingatkan manusia kepada makna-makna ini. saya yakin bahwa di balik peringatan maulid nabi ada hasil yang positif, yaitu mengikatkan kembali kaum muslimin dengan Islam, mengikatkan mereka dengan sejarah Rasulullah Saw, agar mereka menjadikannya sebagai suri tauladan dan contoh. Adapun hal-hal yang keluar daripada ini, maka bukan bagian dari peringatan maulid nabi dan kami tidak mengakui seorang pun untuk melakukannya.
Web:
http://www.qaradawi.net/site/topics/article.asp?cu_no=2&item_no=5852&version=1&template_id=130&parent_id=17
Selasa, 17 Januari 2012
PEMIMPIN DAN SHALAT JAMA'AH
Negara-negara modern yang didirikan berdasarkan demokrasi barat memisahkan antara agama dan negara. Agama adalah urusan personal antara manusia dengan tuhan, tidak ada campur tangan negara di dalamnya. Islam sebagai agama sempurna mengatur semua aspek kehidupan manusia, termasuk beragama dan bernegara. Imam al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Shulthaniyyah menyebutkan beberapa tugas pemimpin negara, dalam bab ke-IX dibahas khusus tentang kuasa pemimpin menjadi imam shalat berjamaah.
Apakah Rasulullah Saw sebagai pemimpin agama dan negara di Madinah hanya mengurus masalah negara? Apakah urusan shalat diserahkan kepada masing-masing individu?
Untuk mengetahui itu kita mesti melihat catatan hadits yang bercerita tentang itu.
Riwayat pertama ini menyebutkan bahwa Rasulullah Saw melakukan inspeksi terhadap anggota masyarakat yang melaksanakan shalat berjamaah:
عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الصُّبْحَ فَقَالَ « شَاهِدٌ فُلاَنٌ ». فَقَالُوا لاَ. فَقَالَ « شَاهِدٌ فُلاَنٌ ». فَقَالُوا لاَ. فَقَالَ « شَاهِدٌ فُلاَنٌ ». فَقَالُوا لاَ.
فَقَالَ « إِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلاَتَيْنِ مِنْ أَثْقَلِ الصَّلَوَاتِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ وَلَو يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَو حَبْواً وَالصَّفُّ الْمُقَدَّمُ عَلَى مِثْلِ صَفِّ الْمَلاَئِكَةِ وَلَوْ تَعْلَمُونَ فَضِيلَتَهُ لاَبْتَدَرْتُمُوهُ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ وَحْدَهُ وَصَلاَتُهُ مَعَ رَجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ مَعَ رَجُلٍ وَمَا كَانَ أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ».
Dari Ubai bin Ka’ab, ia berkata, “Rasulullah Saw melaksanakan shalat Shubuh, beliau bertanya, ‘Apakah si fulan ikut shalat berjamaah?”.
Mereka menjawab, “Tidak”.
Rasulullah Saw bertanya, “Apakah si fulan ikut shalat berjamaah?”.
Mereka menjawab, “Tidak”.
Rasulullah Saw bertanya lagi, “Apakah si fulan ikut shalat berjamaah?”.
Mereka menjawab, “Tidak”.
Rasulullah Saw berkata, “Sesungguhnya dua shalat ini adalah shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik. Andai mereka tahu balasan dalam keduanya, pastilah mereka datang walaupun merangkak”. (Hadits riwayat Imam Ahmad).
Dalam riwayat lain dinyatakan pernyatan Rasulullah Saw yang sangat keras terkait sikap meninggalkan shalat berjamaah:
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيَنْتَهِيَنَّ رِجَالٌ عَنْ تَرْكِ الْجَمَاعَةِ أَوْ لأُحَرِّقَنَّ بُيُوتَهُمْ ».
Dari Usamah bin Zaid, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Hendaklah orang-orang yang meninggalkan shalat berjamaah itu meninggalkan perbuatan mereka, atau aku akan membakar rumah mereka”. (Hadits riwayat Ibnu Majah).
Bahkan riwayat ini menyebutkan tidak adanya keringanan meninggalkan shalat berjamaah, meskipun itu seorang yang buta dan tidak ada yang menuntunnya untuk datang ke masjid:
عَنِ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى رَجُلٌ ضَرِيرُ الْبَصَرِ شَاسِعُ الدَّارِ وَلِى قَائِدٌ لاَ يُلاَئِمُنِى فَهَلْ لِى رُخْصَةٌ أَنْ أُصَلِّىَ فِى بَيْتِى قَالَ « هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ ». قَالَ نَعَمْ. قَالَ « لاَ أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً ».
Dari Ibnu Ummi Maktum, ia bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, saya seorang yang buta, rumah saya jauh dari masjid, tidak ada yang dapat menuntun saya ke masjid. Apakah ada keringanan untuk saya shalat di rumah?”.
Rasulullah Saw bertanya, “Apakah engkau mendengar seruan azan?”.
Ia menjawab, “Ya”.
Rasulullah Saw berkata, “Aku tidak menemukan ada keringanan untukmu”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).
Apakah Rasulullah Saw sebagai pemimpin agama dan negara di Madinah hanya mengurus masalah negara? Apakah urusan shalat diserahkan kepada masing-masing individu?
Untuk mengetahui itu kita mesti melihat catatan hadits yang bercerita tentang itu.
Riwayat pertama ini menyebutkan bahwa Rasulullah Saw melakukan inspeksi terhadap anggota masyarakat yang melaksanakan shalat berjamaah:
عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الصُّبْحَ فَقَالَ « شَاهِدٌ فُلاَنٌ ». فَقَالُوا لاَ. فَقَالَ « شَاهِدٌ فُلاَنٌ ». فَقَالُوا لاَ. فَقَالَ « شَاهِدٌ فُلاَنٌ ». فَقَالُوا لاَ.
فَقَالَ « إِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلاَتَيْنِ مِنْ أَثْقَلِ الصَّلَوَاتِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ وَلَو يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَو حَبْواً وَالصَّفُّ الْمُقَدَّمُ عَلَى مِثْلِ صَفِّ الْمَلاَئِكَةِ وَلَوْ تَعْلَمُونَ فَضِيلَتَهُ لاَبْتَدَرْتُمُوهُ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ وَحْدَهُ وَصَلاَتُهُ مَعَ رَجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ مَعَ رَجُلٍ وَمَا كَانَ أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ».
Dari Ubai bin Ka’ab, ia berkata, “Rasulullah Saw melaksanakan shalat Shubuh, beliau bertanya, ‘Apakah si fulan ikut shalat berjamaah?”.
Mereka menjawab, “Tidak”.
Rasulullah Saw bertanya, “Apakah si fulan ikut shalat berjamaah?”.
Mereka menjawab, “Tidak”.
Rasulullah Saw bertanya lagi, “Apakah si fulan ikut shalat berjamaah?”.
Mereka menjawab, “Tidak”.
Rasulullah Saw berkata, “Sesungguhnya dua shalat ini adalah shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik. Andai mereka tahu balasan dalam keduanya, pastilah mereka datang walaupun merangkak”. (Hadits riwayat Imam Ahmad).
Dalam riwayat lain dinyatakan pernyatan Rasulullah Saw yang sangat keras terkait sikap meninggalkan shalat berjamaah:
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيَنْتَهِيَنَّ رِجَالٌ عَنْ تَرْكِ الْجَمَاعَةِ أَوْ لأُحَرِّقَنَّ بُيُوتَهُمْ ».
Dari Usamah bin Zaid, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Hendaklah orang-orang yang meninggalkan shalat berjamaah itu meninggalkan perbuatan mereka, atau aku akan membakar rumah mereka”. (Hadits riwayat Ibnu Majah).
Bahkan riwayat ini menyebutkan tidak adanya keringanan meninggalkan shalat berjamaah, meskipun itu seorang yang buta dan tidak ada yang menuntunnya untuk datang ke masjid:
عَنِ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى رَجُلٌ ضَرِيرُ الْبَصَرِ شَاسِعُ الدَّارِ وَلِى قَائِدٌ لاَ يُلاَئِمُنِى فَهَلْ لِى رُخْصَةٌ أَنْ أُصَلِّىَ فِى بَيْتِى قَالَ « هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ ». قَالَ نَعَمْ. قَالَ « لاَ أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً ».
Dari Ibnu Ummi Maktum, ia bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, saya seorang yang buta, rumah saya jauh dari masjid, tidak ada yang dapat menuntun saya ke masjid. Apakah ada keringanan untuk saya shalat di rumah?”.
Rasulullah Saw bertanya, “Apakah engkau mendengar seruan azan?”.
Ia menjawab, “Ya”.
Rasulullah Saw berkata, “Aku tidak menemukan ada keringanan untukmu”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).
Langganan:
Postingan (Atom)